AGAR SAINS JADI MEMIKAT


AGAR SAINS JADI MEMIKAT

PDF

Print

E-mail
Minggu, 12 November 2006
Oleh Muhammad Safrinal

Seorang
mahasiswa matematika punya pengalaman sedikit menjengkelkan. Sewaktu
asyik mengutak-atik sepotong rumus sambil membolak-balik buku mahatebal
berlabel Kalkulus Lanjut, ia kedatangan seorang kawan yang kebetulan
aktivis. ’’Buku apaan tuh? Nggak penting. Ini baru buku. Bacalah, biar
kamu jadi intelek dan nyambung kalau diajak ngobrol,” ketus sang kawan
sambil menyodorkan Rumah Kaca-nya Pramoedya Ananta Toer.
Dalam The
Two Cultures (1959), C.P. Snow mengidentifikasi fenomena di atas
sebagai bentuk kesenjangan antara dua budaya. Di satu kutub adalah
budaya literer, kelompok yang menyebut dirinya intelektual sehingga
merasa memiliki otoritas untuk berbicara ihwal kehidupan dan dunia.
Sementara di kutub lain, terdapat budaya sains, kelompok yang dianggap
jauh dari hiruk-pikuk intelektual. Para saintis dipandang laiknya
tukang, yakni manusia-manusia bertangan dingin dan berkepala mesin.
Tak
heran jika selama ini subur kecenderungan yang mendakwa sains sebagai
benda angker yang menyeramkan. Ia selalu diidentikkan dengan pelbagai
deretan angka serta penjabaran teknis yang bikin dahi berkerut. Wilayah
edarnya pun lantas menjadi demikian terbatas. Ia menjadi bahasa yang
begitu eksklusif dan jauh dari kesan memikat.
Hal serupa juga
terlihat di dunia perbukuan. Di tengah derasnya penerbitan buku-buku
sastra, perhatian terhadap buku-buku sains tampak menyedihkan. Para
penerbit sibuk berlomba –sambil beradu sikut–memburu naskah-naskah
sastra. Dari yang bertaraf nobel, hingga kelas populer macam teenlit.
Tak cukup karya pengarang level internasional dan nasional, karya
pengarang kelas lokal pun disikat.
Padahal –meminjam kalimat
biolog-cum-penulis kawakan, Richard Dawkins– tidak semua cerita indah
mampu dikisahkan para sastrawan. Sains sebetulnya juga punya kisah yang
tak kalah menawan. On the Origin of Species (1859) karya Charles Darwin
tak kurang menggetarkan ketimbang One Hundred Years of Solitude (1967)
karya Gabriel G. Marquez, misalnya. Atau On the Revolution of  the
Heavenly Spheres (1543) milik Nicolaus Copernicus, jauh lebih
mengguncang dan meneror pikiran ketimbang The Satanic Verses (1988)
milik Salman Rushdie.
Namun, meski memiliki kisah menawan, sains
kurang bisa melepaskan diri dari jeratan istilah-istilah teknis yang
ruwet. Kecenderungan itu tak pelak membikin masyarakat trauma dan
alergi jika nama sains disebutkan. Ujung-ujungnya, penerbit pun jadi
kecut untuk mempublikasikan buku-buku bertema sains. Nah, agar alergi
masyarakat tidak berlarut-larut, maka perlu dilakukan upaya masif untuk
mengeluarkan sains dari habitatnya yang menyeramkan.
Salah satu yang
patut memperoleh apresiasi hangat adalah upaya yang dilakukan
astrofisikawan tersohor, Stephen Hawking. Melalui buku fenomenalnya,
The Brief History of Time (1988), ia mampu menyingkirkan berjejal-jejal
rumus saat menjabarkan konsep astronomi dan evolusi jagat raya yang
terkenal njelimet itu. Hanya satu rumus yang ia sisakan di dalamnya.
Alasannya, agar orang awam tidak minder untuk mempelajari misteri
terciptanya semesta.
Karya-karya Richard Dawkins juga dapat
dijadikan contoh. Seluruh buku yang ia tulis khusus dipersembahkan
untuk memberikan pemahaman tentang gagasan evolusi Darwin kepada
masyarakat. Bukan dengan konsep dan istilah biologi yang rumit ia
berikan pemahaman itu, melainkan dengan analogi dan permainan metafora
yang segar. Itulah yang menjadi kunci kenapa sejumlah bukunya, semisal
The Selfish Gene (1976) dan The Blind Watchmaker (1986), selalu
ditempatkan di rak-rak buku terlaris.
Dari dalam negeri, ada Hans J.
Wospakrik. Melalui buku Dari Atomos hingga Quark (2005), fisika dan
kimia yang oleh banyak orang ditangkap sebagai sesuatu yang sukar, di
tangannya dapat dikemas dalam bahasa Indonesia yang sederhana dan indah
sehingga nikmat untuk dipahami, sekalipun oleh orang awam. Isi buku ini
merupakan rangkuman pelbagai buku rujukan dan artikel yang disajikan
secara populer dengan menghindari uraian rinci teknis yang berkaitan
dengan peranti ukur (instrumen) dan peranti nalarnya (matematika).
Upaya
Hawking, Dawkins, dan Wospakrik sudah sepantasnya ditiru oleh para
pemerhati sains, khususnya para ilmuwan kita. Ilmuwan harusnya jangan
cuma sibuk berceramah di podium-podium universitas, atau menghabiskan
seluruh waktunya di laboratorium-laboratorium demi mewujudkan riset
bergengsi. Sudah saatnya bagi mereka merasa bertanggung jawab untuk
mewartakan temuan-temuan sains –termasuk hasil riset mereka sendiri–
secara sederhana dan memikat. Setidaknya, biaya sekitar Rp 1,1 triliun
yang disumbangkan rakyat setiap tahun untuk mendanai riset dapat
dirasakan manfaatnya.
Bukan mustahil untuk mengupayakan hal itu.
Kita masih punya cukup banyak ilmuwan yang tulisannya kerap muncul di
berbagai koran, seperti Teuku Jacob, Liek Wilardjo, Wildan Yatim,
Yohannes Surya, dan Terry Mart. Masih kita tunggu manuskrip-manuskrip
sains berkemasan renyah dari tangan-tangan mereka.
Dengan begitu,
sains tidak melulu terjebak dengan bahasa mekanik dan ’’aneh’’, tapi
juga mengenal bahasa literer yang membumi dengan kehidupan rakyat
sehari-hari. Bukankah Albert Einstein pernah berpesan bahwa everything
should be as simple as possible? (*)
*) Muhammad Safrinal, pekerja buku, mahasiswa tingkat akhir biologi Universitas Negeri Yogyakarta.

Alamat:
LPM EKSPRESI Gedung Rektorat Lama lt I
kampus Universitas Negeri Yogyakarta, 55281
Nomor Hp:
081376529501
E-mail:

<!–
var prefix = ‘ma’ + ‘il’ + ‘to’;
var path = ‘hr’ + ‘ef’ + ‘=’;
var addy55046 = ‘m_inal’ + ‘@’;
addy55046 = addy55046 + ‘lycos’ + ‘.’ + ‘com’;
document.write( ‘‘ );
document.write( addy55046 );
document.write( ” );
//–>
m_inal@lycos.com
Alamat Email inidilindungi dari bot spam, Anda Harus Mengaktifkan Javascript Untuk Melihatnya

Nomor Rekening:
Lippobank cabang Babarsari, Yogyakarta, 990-10-01143-1

Leave a Reply