AGAR SAINS JADI MEMIKAT
Thursday, January 18th, 2007AGAR SAINS JADI MEMIKAT |
|
|
|
| Minggu, 12 November 2006 | |
|
Oleh Muhammad Safrinal
Seorang Alamat: <!– |
AGAR SAINS JADI MEMIKAT |
|
|
|
| Minggu, 12 November 2006 | |
|
Oleh Muhammad Safrinal
Seorang Alamat: <!– |
63 Group Rock Bersaing di Sport Hall |
|
|
|
| Minggu, 14 Januari 2007 | |
|
Gudang Garam Rock Competition 2007
Musik rockmemang tidak akan lekang oleh waktu. Walaupun dua tahun belakangan ini pangsa musik lebih didominasi aliran pop atau dangdut, tapi musik rock tetap bertahan pada segmen pasarnya sendiri. Bukan itu saja, musik rock memiliki ciri tersendiri menbedakannya dengan aliran-aliran musik lainnya. Log Zhelebour, produser dan promotor musik rock Indonesia saat ditemui di Hotel Novotel kemarin menjelaskan, di era keemasan God Bless tahun 80-an, yang digawangi Ian Antono dan Ahmad Albar, begitu mendominasi musik tanah air. “Demikian juga dengan group rock lainnya diera 90-an hingga sekarang, seperti Jamrud, Boomerang, Power Metal atau U-9, terus menyemarakkan persaingan di blantika musik tanah air,” katanya. Untuk itu, menurut Log, bendera dominasi musik rock kembali dikibarkan. Salah satunya dengan menggelar event khusus untuk menjaring musisi-musisi rock terbaik di tanah air, yakni “Gudang Garam Rock Competition 2007”. Event yang berlangsung di 15 kota di Indonesia ini juga salah satunya di Kota Palembang, yang merupakan kota ketiga setelah Tangerang dan Bandarlampung. Setelah Palembang, kota-kota lainnya lainnya yang akan disinggahi event musik rock terbesar di tanah air ini adalah Padang, Bandung, Jakarta, Pontianak, Medan, Yogyakarta, Denpasar, Malang, Banjarmasin, Samarinda, Manado dan berakhir di Makasar. Masing-masing daerah akan dipilih dua group musik rock terbaik. Mereka nantinya akan diikutkan ke final penentuan 12 besar di Bandung pada 19 Mei mendatang. “Para musisi rock di Palembang, ternyata tidak kalah dengan musisi-musisi daerah lain. Terbukti pesertanya melebih jumlah yang kita ditargetkan,” ujar Log sambil tersenyum usai technical meeting di Hotel Novotel, kemarin (13/1). Jumlah peserta yang akan unjuk gigi memang terbilang besar, yakni 63 group. Hari ini (14/1), sekitar pukul 09.00 WIB, mereka akan bersaing memperebutkan posisi 12 besar di babak final. Babak final sendiri akan berlangsung pada berlangsung pada 16 Januari di Stadion Kamboja. Tata panggung saat audisi dan final terbilang wah. Dimana panggungnya riging platinum berukuran 19 m x 15 m dengan lighting melebihi 100 ribu watt, ditambah peralatan sound system dari Log Sound 30 ribu watt. Hal ini tentunya menjadikan kompetisi rock ini tak kalah dengan konser-konser artis papan atas lainnya. Bukan itu saja, para musisi rock ini akan dimanjakan dengan peralatan panggung yang spektakuler. Seperti Marshall JCM 900, Marshall JCM 2000, Ampli Bass Ampec, Drum Tama Star Clasic, Keyboard Roland RD 700, plus Ampli Roland KC serta Ampli Roland Accoustick. “Kita memang menyiapkan berbagai peralatan musik yang kapasitasnya 1,5 kali dari konser Jamrud. Jadi, untuk menjaring musisi rock berkualitas, tidak cukup hanya dengan mendengar demo lagu dikaset, terus langsung rekaman. Tapi harus dilihat secara langsung bagaimana keahlian dan kekompakan mereka,” tutur Log bersemangat. Log menjelaskan, setiap peserta yang mengikuti audisi ini, diwajibkan membawakan satu lagu ciptaanya sendiri. Baru saat babak final di Stadion Kamboja dengan 12 group, peserta akan membawakan dua buah lagu, yaitu lagu ciptaan sendiri dan lagu dari group band, yang bernaung di bawah bendera Loggis atau Log Zhelebour Production. “Saat final di Stadion Kamboja nanti, kita juga mendatangkan bintanag tamu, yaitu dua group rock papan atas Indonesia, Boomerang dan U-9,” sambungnya. Sdangkan juri pada kompetisi kompetisi nanti adalah para musisi, penyanyi atau pengamat musikyang diketuai langsung Log Zhelebour. Kriteria penilaian utama, diantaranya kekompakan dan kebersamaan, kreatifitas karakter musik dan lagu, harmonisasi musik dan lagu, termasuk penampilan atau performance. “Saya jamin penilaian akan dilakukan secara jujur dan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Tak satu orang yang bisa menyogok atau menyuap seorang Log Zhelebour untuk memenangkan group musiknya secara tidak jujur,” tegasnya Log yang disambut aplus meriah dari sekitar 200 musisi rock Palembang yang hadir pada technical meeting tersebut. (mg2) Peserta Gudang Garam –Rock Competition 2007 1. SAB Crew |
Gaptek |
|
|
|
| Minggu, 14 Januari 2007 | |
|
Kendati teknologi sudah berkembang sangat pesat, drummer Slank ini justru tidak mengetahui apa-apa mengenai teknologi. Jangankan bermain game di internet, mengakses apa saja yang diberikan sebuah operator telepon saja dia tidak mengetahuinya. Baginya, bermain di sebuah game online hanyalah buang waktu saja. “Jujur diantara anggota Slank yang lain gue yang paling gaptek. Kalau yang lainkan suka bawa laptop gue enggak. Boro boro bawa, ngerti juga enggak, apalagi main game online, enggak pernah seumur-umur,” ujar Bimbim di-launching game online Lil Online di Ex Plaza, Jakpus. Dari kecil, Bimbim mengaku tidak pernah menyentuh permainan yang banyak dimainkan oleh remaja dan anak-anak. Waktunya dihabiskan untuk bermain musik. Namun, dengan terpilihnya dia menjadi ikon sebuah game online, Bimbim dipaksa untuk membuka komputernya secara intens agar tidak ketinggalan teknologi. “Lihat aja nanti lah. Tapi karena udah terpilih ya mau enggak mau harus sering buka. Karena gue kan juga bermain di sana. Kalau gue enggak Online maka yang lain enggak bisa berinteraksi dengan gue dan account gue di game nanti bakal habis. Jadi seneng aja lah, bisa nambah wawasan,” tandasnya. Tidak jauh berbeda dengan Bimbim, Kaka juga demikian. Kendati tidak gaptek, intensitasnya menggunakan internet memang sangat jarang. Bila terdesak harus memberikan data lewat internet baru dia online. “Gue jarang banget deh buka internet. Yah bisa dibilang gue sama bimbim emang gaptek. Tapi kalau lewat telepon sih sering buat lihat berita. Selebihnya enggak, apalagi main. Yang sering bawa laptop itu Ridho sama Abdee. Ke mana mereka pergi pasti bawa alat itu. Enggak kaya kita,” ucapnya. (mar) |
Peryataan Sikap PENGUIN MERAH
Tentang MoU (14 Nopember 2006) antara Pemerintah RI dengan Microsoft
serta Penggunaan Piranti Lunak Bebas
Indonesia tergolong negara yang sangat ketinggalan dalam penggunaan
ataupun pengembangan tekonologi komunikasi dan informasi (information
and communication technology/ICT). Pengguna internetnya tergolong
rendah (hanya sekitar 20 juta orang), sementara total jumlah komputer
di Indonesia hanya hanya sekitar 6,5 juta unit saja. Di tengah situasi
ini, sudah selayaknya Pemerintah Indonesia, serta institusi pengambil
kebijakan lain menjadi trigger (perintis) utama yang mendorong maju
penggunaan dan pengembangan teknologi. Karena itu berbagai kebijakan
yang memungkinkan arah maju bagi terciptanya hal ini harus dilakukan
secara maksimal.
Dalam pandangan kami, arah bagi massalisasi teknologi ini membutuhkan syarat:
1. Adanya teknologi dengan biaya yang murah, hemat, dan terjangkau
serta memungkinkan terbukanya akses yang luas bagi seluruh rakyat
Indonesia
2. Deregulasi dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi yang menghambat pada poin 1 (satu) tersebut di atas.
Seluruh syarat tersebut dapat terpenuhi dengan pra-syarat: dukungan dan keseriusan pemerintah dalam berbagai aspeknya, seperti:
1. Membuat aturan-aturan yang menguntungkan penggunaan teknologi secara massal
2. Mengalokasikan anggaran dan dana bagi penggunaan teknologi secara
massal, untuk pengembangan teknologi itu sendiri, seperti pelatihan,
riset/penelitian, dan lain-lain
3. Mempelopori penggunaan teknologi murah yang berkualitas dan massal di institusi-institusi negara, dan lain-lain
Di tengah situasi ini, pemerintah Indonesia malah lebih mengedepankan
perlindungan hak cipta (copy right) piranti lunak (software) daripada
program massalisasi (melek) teknologi. Bahkan, dengan alasan tersebut,
pada tanggal 14 November 2006 lalu, pemerintah membuat keputusan yang
sangat mengecewakan, yakni menandatangani Memorandum of Understanding
(MoU) dengan Microsoft. Dengan penandatangan tersebut, pemerintah
berpotensi menghambur-hambukan uang negara untuk membayar lisensi
kepada Microsoft ± $ 145 juta (± Rp. 1,3 triliun) selama 3 tahun.
Dalam pandangan kami, keputusan tersebut bertentangan dengan kebutuhan
rakyat Indonesia saat ini, khususnya terkait pemajuan teknologi
informasi dan komunikasi (ICT). Sudah bukan rahasia lagi, bahwa sebagai
satu perusahaan yang murni beriorientasi profit, Microsoft sedang
gencar-gencarnya menekan berbagai negara untuk mengadopsi dan
menggunakan secara legal OS Windows berserta piranti lunak tertutup
(proprietary software) lainnya. Terkait program ini, Microsoft melalui
BSA (Business Software Alliance) beserta aparat pemerintah (Kepolisian
RI) melakukan berbagai razia. Dari razia ini, Microsoft dapat
melipatgandakan keuntungan hingga jutaan US dollar (Kompas Cyber Media,
10 Nopember 2006).
Tentu ini adalah sah bagi kelangsungan bisnis Microsoft, namun
pemerintah Indonesia seharusnya bertindak lain. Upaya serius dan
terencana untuk keluar dari ketergantungan teknologi pada satu vendor
tertentu harus dihilangkan. Dengan adanya berbagai alternatif free/open
source software (FOSS) seperti Linux, FreeBSD, dan lain-lain, tujuan
ini menjadi lebih mungkin untuk segera tercapai. Selain kemandirian
dalam bidang ICT, negara pun dapat menekan anggaran keuangan hingga
jutaan dollar. Hal ini jauh lebih berguna dibandingkan pemborosan
ratusan milyar rupiah setiap tahunnya untuk lisensi produk Microsoft
seperti Windows dan Ms Office saja.
Salah satu contoh negara yang berhasil menekan pengeluaran negara dalam
bidang ICT adalah Brazil. 300 ribu komputer di kantor pemerintah yang
dialihkan ke FOSS, berhasil menghemat anggaran US$ 120 juta dalam
setahun (Tempo, 7 Januari 2007). Bahkan negara-negara maju pun sudah
semakin banyak yang beralih ke FOSS, seperti Korea Selatan, RRC,
Jerman, dan beberapa negara Eropa lainnya. Artinya, jika pemerintah
serius hendak memajukan sektor ICT, seharusnya pemerintah lebih
menitikberatkan perhatian pada penggunaan dan pengembangan FOSS, bukan
menjadi agen langsung ataupun tidak langsung Microoft serta perusahaan
piranti lunak berlisendi/tertutup (proprietary software) lainnya.
Selain itu, menggunakan dan dan mengembangkan FOSS merupakan solusi
terbaik untuk menekan tingkat pembajakan software di Indonesia.
Peryataan Sofyan Jalil di beberapa media yang menyatakan, bahwa MoU 14
Nopember 2006 antara pemerintah dengan Microsoft adalah untuk menekan
angka pembajakan di Indonesia (Kompas, 13 Januari 2007) adalah
peryataan yang sangat pragmatis dan hanya menguntungkan perusahaan
proprietary sofware, seperti Microsoft.
Dengan penjelasan tersebut di atas, kami dari Komunitas Teknologi Informasi PENGUIN MERAH, menyatakan dan menuntut:
1. Menolak dominasi piranti lunak Microoft dan proprietary software
lainnya untuk digunakan pada komputer-komputer di seluruh kantor
pemerintah demi penghematan dan penyelamatan uang rakyat.
2. Menuntut pada pemerintah untuk membatalkan/ mencabut MoU 14 Nopember 2006 antara pemerintah dan Microsoft.
3. Menuntut pada pemerintah untuk secara serius menggunakan,
menyebarluaskan, dan mengembangkan Free and Open Source Software (FOSS)
dengan menjalankan secara konsisten seperti yang sudah tertuang dalam
DEKLARASI BERSAMA INDONESIA GO OPEN SOURCE (IGOS) tanggal 30 Juni 2004.
4. Menuntut pada pemerintah untuk mengeluarkan sebuah peryataan
terbuka pada masyarakat luas dan dunia internasional, bahwa secara
resmi Indonesia akan menggunakan FOSS pada komputer-komputer di seluruh
kantor pemerintah demi penghematan dan penyelamatan uang rakyat.
Jakarta, 15 Januari 2007
Tolak Dominasi Microsoft!
Gunakan dan Kembangkan Free & Open Source Software (FOSS)!
PENGUIN MERAH
Narendro Hariosetyawan