Archive for January, 2007

AGAR SAINS JADI MEMIKAT

Thursday, January 18th, 2007

AGAR SAINS JADI MEMIKAT

PDF

Print

E-mail
Minggu, 12 November 2006
Oleh Muhammad Safrinal

Seorang
mahasiswa matematika punya pengalaman sedikit menjengkelkan. Sewaktu
asyik mengutak-atik sepotong rumus sambil membolak-balik buku mahatebal
berlabel Kalkulus Lanjut, ia kedatangan seorang kawan yang kebetulan
aktivis. ’’Buku apaan tuh? Nggak penting. Ini baru buku. Bacalah, biar
kamu jadi intelek dan nyambung kalau diajak ngobrol,” ketus sang kawan
sambil menyodorkan Rumah Kaca-nya Pramoedya Ananta Toer.
Dalam The
Two Cultures (1959), C.P. Snow mengidentifikasi fenomena di atas
sebagai bentuk kesenjangan antara dua budaya. Di satu kutub adalah
budaya literer, kelompok yang menyebut dirinya intelektual sehingga
merasa memiliki otoritas untuk berbicara ihwal kehidupan dan dunia.
Sementara di kutub lain, terdapat budaya sains, kelompok yang dianggap
jauh dari hiruk-pikuk intelektual. Para saintis dipandang laiknya
tukang, yakni manusia-manusia bertangan dingin dan berkepala mesin.
Tak
heran jika selama ini subur kecenderungan yang mendakwa sains sebagai
benda angker yang menyeramkan. Ia selalu diidentikkan dengan pelbagai
deretan angka serta penjabaran teknis yang bikin dahi berkerut. Wilayah
edarnya pun lantas menjadi demikian terbatas. Ia menjadi bahasa yang
begitu eksklusif dan jauh dari kesan memikat.
Hal serupa juga
terlihat di dunia perbukuan. Di tengah derasnya penerbitan buku-buku
sastra, perhatian terhadap buku-buku sains tampak menyedihkan. Para
penerbit sibuk berlomba –sambil beradu sikut–memburu naskah-naskah
sastra. Dari yang bertaraf nobel, hingga kelas populer macam teenlit.
Tak cukup karya pengarang level internasional dan nasional, karya
pengarang kelas lokal pun disikat.
Padahal –meminjam kalimat
biolog-cum-penulis kawakan, Richard Dawkins– tidak semua cerita indah
mampu dikisahkan para sastrawan. Sains sebetulnya juga punya kisah yang
tak kalah menawan. On the Origin of Species (1859) karya Charles Darwin
tak kurang menggetarkan ketimbang One Hundred Years of Solitude (1967)
karya Gabriel G. Marquez, misalnya. Atau On the Revolution of  the
Heavenly Spheres (1543) milik Nicolaus Copernicus, jauh lebih
mengguncang dan meneror pikiran ketimbang The Satanic Verses (1988)
milik Salman Rushdie.
Namun, meski memiliki kisah menawan, sains
kurang bisa melepaskan diri dari jeratan istilah-istilah teknis yang
ruwet. Kecenderungan itu tak pelak membikin masyarakat trauma dan
alergi jika nama sains disebutkan. Ujung-ujungnya, penerbit pun jadi
kecut untuk mempublikasikan buku-buku bertema sains. Nah, agar alergi
masyarakat tidak berlarut-larut, maka perlu dilakukan upaya masif untuk
mengeluarkan sains dari habitatnya yang menyeramkan.
Salah satu yang
patut memperoleh apresiasi hangat adalah upaya yang dilakukan
astrofisikawan tersohor, Stephen Hawking. Melalui buku fenomenalnya,
The Brief History of Time (1988), ia mampu menyingkirkan berjejal-jejal
rumus saat menjabarkan konsep astronomi dan evolusi jagat raya yang
terkenal njelimet itu. Hanya satu rumus yang ia sisakan di dalamnya.
Alasannya, agar orang awam tidak minder untuk mempelajari misteri
terciptanya semesta.
Karya-karya Richard Dawkins juga dapat
dijadikan contoh. Seluruh buku yang ia tulis khusus dipersembahkan
untuk memberikan pemahaman tentang gagasan evolusi Darwin kepada
masyarakat. Bukan dengan konsep dan istilah biologi yang rumit ia
berikan pemahaman itu, melainkan dengan analogi dan permainan metafora
yang segar. Itulah yang menjadi kunci kenapa sejumlah bukunya, semisal
The Selfish Gene (1976) dan The Blind Watchmaker (1986), selalu
ditempatkan di rak-rak buku terlaris.
Dari dalam negeri, ada Hans J.
Wospakrik. Melalui buku Dari Atomos hingga Quark (2005), fisika dan
kimia yang oleh banyak orang ditangkap sebagai sesuatu yang sukar, di
tangannya dapat dikemas dalam bahasa Indonesia yang sederhana dan indah
sehingga nikmat untuk dipahami, sekalipun oleh orang awam. Isi buku ini
merupakan rangkuman pelbagai buku rujukan dan artikel yang disajikan
secara populer dengan menghindari uraian rinci teknis yang berkaitan
dengan peranti ukur (instrumen) dan peranti nalarnya (matematika).
Upaya
Hawking, Dawkins, dan Wospakrik sudah sepantasnya ditiru oleh para
pemerhati sains, khususnya para ilmuwan kita. Ilmuwan harusnya jangan
cuma sibuk berceramah di podium-podium universitas, atau menghabiskan
seluruh waktunya di laboratorium-laboratorium demi mewujudkan riset
bergengsi. Sudah saatnya bagi mereka merasa bertanggung jawab untuk
mewartakan temuan-temuan sains –termasuk hasil riset mereka sendiri–
secara sederhana dan memikat. Setidaknya, biaya sekitar Rp 1,1 triliun
yang disumbangkan rakyat setiap tahun untuk mendanai riset dapat
dirasakan manfaatnya.
Bukan mustahil untuk mengupayakan hal itu.
Kita masih punya cukup banyak ilmuwan yang tulisannya kerap muncul di
berbagai koran, seperti Teuku Jacob, Liek Wilardjo, Wildan Yatim,
Yohannes Surya, dan Terry Mart. Masih kita tunggu manuskrip-manuskrip
sains berkemasan renyah dari tangan-tangan mereka.
Dengan begitu,
sains tidak melulu terjebak dengan bahasa mekanik dan ’’aneh’’, tapi
juga mengenal bahasa literer yang membumi dengan kehidupan rakyat
sehari-hari. Bukankah Albert Einstein pernah berpesan bahwa everything
should be as simple as possible? (*)
*) Muhammad Safrinal, pekerja buku, mahasiswa tingkat akhir biologi Universitas Negeri Yogyakarta.

Alamat:
LPM EKSPRESI Gedung Rektorat Lama lt I
kampus Universitas Negeri Yogyakarta, 55281
Nomor Hp:
081376529501
E-mail:

<!–
var prefix = ‘ma’ + ‘il’ + ‘to’;
var path = ‘hr’ + ‘ef’ + ‘=’;
var addy55046 = ‘m_inal’ + ‘@’;
addy55046 = addy55046 + ‘lycos’ + ‘.’ + ‘com’;
document.write( ‘‘ );
document.write( addy55046 );
document.write( ” );
//–>
m_inal@lycos.com
Alamat Email inidilindungi dari bot spam, Anda Harus Mengaktifkan Javascript Untuk Melihatnya

Nomor Rekening:
Lippobank cabang Babarsari, Yogyakarta, 990-10-01143-1

63 Group Rock Bersaing di Sport Hall

Thursday, January 18th, 2007

63 Group Rock Bersaing di Sport Hall

PDF

Print

E-mail
Minggu, 14 Januari 2007
Gudang Garam Rock Competition 2007

Musik rock
memang tidak akan lekang oleh waktu. Walaupun dua tahun belakangan ini
pangsa musik lebih didominasi aliran pop atau dangdut, tapi musik  rock
tetap bertahan pada segmen pasarnya sendiri. Bukan itu saja, musik rock
memiliki ciri tersendiri menbedakannya dengan aliran-aliran musik
lainnya.
    Log Zhelebour, produser dan promotor musik rock
Indonesia saat ditemui di Hotel Novotel kemarin menjelaskan,     di era
keemasan God Bless tahun 80-an, yang digawangi Ian Antono dan Ahmad
Albar, begitu mendominasi musik tanah air.  “Demikian juga dengan group
rock lainnya diera 90-an hingga sekarang, seperti Jamrud, Boomerang,
Power Metal atau  U-9, terus menyemarakkan persaingan di blantika musik
tanah air,” katanya.
    Untuk itu, menurut Log, bendera dominasi
musik rock kembali dikibarkan. Salah satunya dengan menggelar event
khusus untuk menjaring musisi-musisi rock terbaik di tanah air, yakni
“Gudang Garam Rock Competition 2007”. Event yang berlangsung di 15 kota
di Indonesia ini juga salah satunya di Kota Palembang, yang merupakan
kota ketiga setelah Tangerang dan Bandarlampung.
    Setelah
Palembang, kota-kota lainnya lainnya yang akan disinggahi event musik
rock terbesar di tanah air ini adalah Padang, Bandung, Jakarta,
Pontianak, Medan, Yogyakarta, Denpasar, Malang, Banjarmasin, Samarinda,
Manado dan berakhir di Makasar. Masing-masing daerah akan dipilih dua
group musik rock terbaik. Mereka nantinya akan diikutkan ke final
penentuan 12 besar di Bandung pada 19 Mei mendatang.
    “Para
musisi rock di Palembang, ternyata tidak kalah dengan musisi-musisi
daerah lain. Terbukti pesertanya melebih jumlah yang kita ditargetkan,”
ujar Log sambil tersenyum usai technical meeting di Hotel Novotel,
kemarin (13/1).
    Jumlah peserta yang akan unjuk gigi memang
terbilang besar, yakni 63 group. Hari ini (14/1), sekitar pukul 09.00
WIB, mereka akan bersaing memperebutkan posisi 12 besar di babak final.
Babak final sendiri akan berlangsung pada berlangsung pada 16 Januari
di Stadion Kamboja.
    Tata panggung saat audisi dan final
terbilang wah. Dimana panggungnya riging platinum berukuran 19 m x 15 m
dengan lighting melebihi 100 ribu watt,  ditambah peralatan sound
system dari Log Sound 30 ribu watt. Hal ini tentunya menjadikan
kompetisi rock ini tak kalah dengan konser-konser artis papan atas
lainnya.
    Bukan itu saja, para musisi rock ini akan dimanjakan
dengan peralatan panggung yang spektakuler. Seperti Marshall JCM 900,
Marshall JCM 2000, Ampli Bass Ampec, Drum Tama Star Clasic, Keyboard
Roland RD 700, plus Ampli Roland KC serta Ampli Roland Accoustick.
“Kita memang menyiapkan berbagai peralatan musik yang kapasitasnya 1,5
kali dari konser Jamrud.  Jadi, untuk menjaring musisi rock
berkualitas, tidak cukup hanya dengan mendengar demo lagu dikaset,
terus langsung rekaman. Tapi harus dilihat secara langsung bagaimana
keahlian dan kekompakan mereka,” tutur Log bersemangat.
    Log
menjelaskan, setiap peserta yang mengikuti audisi ini, diwajibkan
membawakan satu lagu ciptaanya sendiri. Baru saat babak final di
Stadion Kamboja dengan 12 group, peserta akan membawakan dua buah lagu,
yaitu lagu ciptaan sendiri dan lagu dari group band, yang bernaung di
bawah bendera Loggis atau Log Zhelebour Production. “Saat final di
Stadion Kamboja nanti, kita juga mendatangkan bintanag tamu, yaitu dua
group rock papan atas Indonesia, Boomerang dan U-9,” sambungnya.
 
Sdangkan juri pada kompetisi kompetisi nanti adalah para musisi,
penyanyi atau pengamat musikyang diketuai langsung Log Zhelebour.
Kriteria penilaian utama, diantaranya kekompakan dan kebersamaan,
kreatifitas karakter musik dan lagu, harmonisasi musik dan lagu,
termasuk penampilan atau performance. “Saya jamin penilaian akan
dilakukan secara jujur dan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
Tak satu orang yang bisa menyogok atau menyuap seorang Log Zhelebour
untuk memenangkan group musiknya secara tidak jujur,” tegasnya Log yang
disambut aplus meriah dari  sekitar 200 musisi rock Palembang yang
hadir pada technical meeting tersebut. (mg2)

Peserta Gudang Garam –Rock Competition 2007

1.    SAB Crew
2.    Yodis
3.    X treme
4.    NIP
5.    Caramel
6.    Open String
7.    The Beach
8.    Apana
9.    Zhoro
10.    X treme plus band
11.    Lucille
12.    Silver
13.    New Trotoart
14.    Blitz
15.    Fusion
16.    Seven Kiss
17.    Carbony
18.    X-Mod
19.    Ngeper
20.    Jamswan
21.    Detroit
22.    Pyramid
23.    FID
24.    The Friends
25.    Bintang
26.    Laskar
27.    Revolution
28.    Nostradamus
29.    Shelter 1
30.    Casanova
31.    Damn Foul
32.    Eden Key
33.    LB band
34.    Matahari
35.    Kafas
36.    Sampah
37.    Gravity
38.    Continue
39.    Surya band
40.    Tahta
41.    Tissue
42.    Archapada
43.    Nuansa
44.    Attas band
45.    Steel
46.    Black Angel
47.    MG
48.    Rolling Dor
49.    Metalator
50.    Moment OP
51.    Dezavu
52.    RB
53.    Basic
54.    The Roof
55.    Teletubies
56.    MEV
57.    Bad Family
58.    Compeni
59.    Rool On
60.    Aliv Band
61.    Melodius
62.    Blew Superiors
63.    Kinslayer

Gaptek

Thursday, January 18th, 2007

Gaptek

PDF

Print

E-mail
Minggu, 14 Januari 2007
Kendati teknologi sudah berkembang sangat pesat, drummer Slank ini
justru tidak mengetahui apa-apa mengenai teknologi. Jangankan bermain
game di internet, mengakses apa saja yang diberikan sebuah operator
telepon saja dia tidak mengetahuinya. Baginya, bermain di sebuah game
online hanyalah buang waktu saja.
 
“Jujur diantara anggota Slank yang lain gue yang paling gaptek. Kalau
yang lainkan suka bawa laptop gue enggak. Boro boro bawa, ngerti juga
enggak, apalagi main game online, enggak pernah seumur-umur,” ujar
Bimbim di-launching game online Lil Online di Ex Plaza, Jakpus.
 
Dari kecil, Bimbim mengaku tidak pernah menyentuh permainan yang
banyak dimainkan oleh remaja dan anak-anak. Waktunya dihabiskan untuk
bermain musik. Namun, dengan terpilihnya dia menjadi ikon sebuah game
online, Bimbim dipaksa untuk membuka komputernya secara intens agar
tidak ketinggalan teknologi.
    “Lihat aja nanti lah. Tapi karena
udah terpilih ya mau enggak mau harus sering buka. Karena gue kan juga
bermain di sana. Kalau gue enggak Online maka yang lain enggak bisa
berinteraksi dengan gue dan account gue di game nanti bakal habis. Jadi
seneng aja lah, bisa nambah wawasan,” tandasnya.
    Tidak jauh
berbeda dengan Bimbim, Kaka juga demikian. Kendati tidak gaptek,
intensitasnya menggunakan internet memang sangat jarang. Bila terdesak
harus memberikan data lewat internet baru dia online.
    “Gue
jarang banget deh buka internet. Yah bisa dibilang gue sama bimbim
emang gaptek. Tapi kalau lewat telepon sih sering buat lihat berita.
Selebihnya enggak, apalagi main. Yang sering bawa laptop itu Ridho sama
Abdee. Ke mana mereka pergi pasti bawa alat itu. Enggak kaya kita,”
ucapnya. (mar)
   

Peryataan Sikap PENGUIN MERAH

Thursday, January 18th, 2007


Peryataan Sikap PENGUIN MERAH

Tentang MoU (14 Nopember 2006) antara Pemerintah RI dengan Microsoft

serta Penggunaan Piranti Lunak Bebas

Indonesia tergolong negara yang sangat ketinggalan dalam penggunaan
ataupun pengembangan tekonologi komunikasi dan informasi (information
and communication technology/ICT). Pengguna internetnya tergolong
rendah (hanya sekitar 20 juta orang), sementara total jumlah komputer
di Indonesia hanya hanya sekitar 6,5 juta unit saja. Di tengah situasi
ini, sudah selayaknya Pemerintah Indonesia, serta institusi pengambil
kebijakan lain menjadi trigger (perintis) utama yang mendorong maju
penggunaan dan pengembangan teknologi. Karena itu berbagai kebijakan
yang memungkinkan arah maju bagi terciptanya hal ini harus dilakukan
secara maksimal.

Dalam pandangan kami, arah bagi massalisasi teknologi ini membutuhkan syarat:

   1. Adanya teknologi dengan biaya yang murah, hemat, dan terjangkau
serta memungkinkan terbukanya akses yang luas bagi seluruh rakyat
Indonesia
   2. Deregulasi dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi yang menghambat pada poin 1 (satu) tersebut di atas.

Seluruh syarat tersebut dapat terpenuhi dengan pra-syarat: dukungan dan keseriusan pemerintah dalam berbagai aspeknya, seperti:

   1. Membuat aturan-aturan yang menguntungkan penggunaan teknologi secara massal
   2. Mengalokasikan anggaran dan dana bagi penggunaan teknologi secara
massal, untuk pengembangan teknologi itu sendiri, seperti pelatihan,
riset/penelitian, dan lain-lain
   3. Mempelopori penggunaan teknologi murah yang berkualitas dan massal di institusi-institusi negara, dan lain-lain

Di tengah situasi ini, pemerintah Indonesia malah lebih mengedepankan
perlindungan hak cipta (copy right) piranti lunak (software) daripada
program massalisasi (melek) teknologi. Bahkan, dengan alasan tersebut,
pada tanggal 14 November 2006 lalu, pemerintah membuat keputusan yang
sangat mengecewakan, yakni menandatangani Memorandum of Understanding
(MoU) dengan Microsoft. Dengan penandatangan tersebut, pemerintah
berpotensi menghambur-hambukan uang negara untuk membayar lisensi
kepada Microsoft ± $ 145 juta (± Rp. 1,3 triliun) selama 3 tahun.

Dalam pandangan kami, keputusan tersebut bertentangan dengan kebutuhan
rakyat Indonesia saat ini, khususnya terkait pemajuan teknologi
informasi dan komunikasi (ICT). Sudah bukan rahasia lagi, bahwa sebagai
satu perusahaan yang murni beriorientasi profit, Microsoft sedang
gencar-gencarnya menekan berbagai negara untuk mengadopsi dan
menggunakan secara legal OS Windows berserta piranti lunak tertutup
(proprietary software) lainnya. Terkait program ini, Microsoft melalui
BSA (Business Software Alliance) beserta aparat pemerintah (Kepolisian
RI) melakukan berbagai razia. Dari razia ini, Microsoft dapat
melipatgandakan keuntungan hingga jutaan US dollar (Kompas Cyber Media,
10 Nopember 2006).

Tentu ini adalah sah bagi kelangsungan bisnis Microsoft, namun
pemerintah Indonesia seharusnya bertindak lain. Upaya serius dan
terencana untuk keluar dari ketergantungan teknologi pada satu vendor
tertentu harus dihilangkan. Dengan adanya berbagai alternatif free/open
source software (FOSS) seperti Linux, FreeBSD, dan lain-lain, tujuan
ini menjadi lebih mungkin untuk segera tercapai. Selain kemandirian
dalam bidang ICT, negara pun dapat menekan anggaran keuangan hingga
jutaan dollar. Hal ini jauh lebih berguna dibandingkan pemborosan
ratusan milyar rupiah setiap tahunnya untuk lisensi produk Microsoft
seperti Windows dan Ms Office saja.

Salah satu contoh negara yang berhasil menekan pengeluaran negara dalam
bidang ICT adalah Brazil. 300 ribu komputer di kantor pemerintah yang
dialihkan ke FOSS, berhasil menghemat anggaran US$ 120 juta dalam
setahun (Tempo, 7 Januari 2007). Bahkan negara-negara maju pun sudah
semakin banyak yang beralih ke FOSS, seperti Korea Selatan, RRC,
Jerman, dan beberapa negara Eropa lainnya. Artinya, jika pemerintah
serius hendak memajukan sektor ICT, seharusnya pemerintah lebih
menitikberatkan perhatian pada penggunaan dan pengembangan FOSS, bukan
menjadi agen langsung ataupun tidak langsung Microoft serta perusahaan
piranti lunak berlisendi/tertutup (proprietary software) lainnya.

Selain itu, menggunakan dan dan mengembangkan FOSS merupakan solusi
terbaik untuk menekan tingkat pembajakan software di Indonesia.
Peryataan Sofyan Jalil di beberapa media yang menyatakan, bahwa MoU 14
Nopember 2006 antara pemerintah dengan Microsoft adalah untuk menekan
angka pembajakan di Indonesia (Kompas, 13 Januari 2007) adalah
peryataan yang sangat pragmatis dan hanya menguntungkan perusahaan
proprietary sofware, seperti Microsoft.

Dengan penjelasan tersebut di atas, kami dari Komunitas Teknologi Informasi PENGUIN MERAH, menyatakan dan menuntut:

   1. Menolak dominasi piranti lunak Microoft dan proprietary software
lainnya untuk digunakan pada komputer-komputer di seluruh kantor
pemerintah demi penghematan dan penyelamatan uang rakyat.
   2. Menuntut pada pemerintah untuk membatalkan/ mencabut MoU 14 Nopember 2006 antara pemerintah dan Microsoft.
   3. Menuntut pada pemerintah untuk secara serius menggunakan,
menyebarluaskan, dan mengembangkan Free and Open Source Software (FOSS)
dengan menjalankan secara konsisten seperti yang sudah tertuang dalam
DEKLARASI BERSAMA INDONESIA GO OPEN SOURCE (IGOS) tanggal 30 Juni 2004.
   4. Menuntut pada pemerintah untuk mengeluarkan sebuah peryataan
terbuka pada masyarakat luas dan dunia internasional, bahwa secara
resmi Indonesia akan menggunakan FOSS pada komputer-komputer di seluruh
kantor pemerintah demi penghematan dan penyelamatan uang rakyat.

Jakarta, 15 Januari 2007

Tolak Dominasi Microsoft!

Gunakan dan Kembangkan Free & Open Source Software (FOSS)!

PENGUIN MERAH


Narendro Hariosetyawan