Tarif Dasar PDAM Naik 28%
Tarif Dasar PDAM Naik 28%
Kamis, 28 September 2006
Akhir Desember Resmi Berlaku
PALEMBANG – Anda masih ingat rencana kenaikan tarif dasar PDAM Tirta Musi sebesar 20%? Ternyata, dalam
rapat tertutup jajaran direksi PDAM dengan Wali Kota Ir H Eddy Santana Putra MT di kantor pemkot, kemarin (27/9),
memutuskan kenaikan sebesar 28%. Tarif baru tersebut mulai berlaku akhir Desember.“DPRD kota setuju
dengan kenaikan tarif dasar sebesar 28% itu. Jika tidak dinaikkan PDAM bisa kolaps,” ungkap Direktur Utama
PDAM Tirta Musi, Ir Syaiful DEA, usai rapat.
Dia kembali mengingatkan bahwa selama ini PDAM sangat terbebani dengan penjualan air. Ini mengingat harga jual
kepada masyarakat Rp 755 per meter kubik jauh lebih rendah dibandingkan dengan biaya pengolahan Rp 1.700 per
meter kubik.
Selain itu, tarif dasar PDAM Tirta Musi paling rendah dibandingkan dengan tarif dasar air di kabupaten/kota lain.
“Dengan Muara Enim saja misalnya, tarif kita jauh lebih rendah.”
Untungnya, menurut Syaiful, operasional PDAM selama ini tertutupi subsidi silang dari rekening air industri, pelabuhan,
hotel dan lainnya. “Tanpa subsidi ini operasional kita tidak bisa berjalan,” ujarnya.
Dijelaskan, kenaikan 28 persen tersebut angka rata-rata. Dengan lain kata, ada kenaikan yang lebih tinggi, terutama
untuk golongan pelanggan industri, hotel, pelabuhan dan lainnya. Sebaliknya, ada yang lebih rendah yakni untuk
pelanggan rumah tangga.
Sementara itu, sejumlah warga yang ditemui koran ini mengaku tidak keberatan dengan rencana kenaikan tersebut.
“Kita tidak masalah tarifnya dinaikkan. Yang penting dengan kenaikan itu pelayanan semakin
ditingkatkan,” kata Rohiya, pelanggan PDAM di kawasan Sekip.
Menurut dia, distribusi air hendaknya 24 jam tidak terbatas seperti saat ini. Di Kawasan Sekip distribusi air hanya lima
jam, yakni pukul 05.00 hingga 09.00 WIB, selain itu untuk memperoleh air harus menggunakan pompa, jika tidak air tidak
keluar.
Senada juga disampaikan Lusi warga Km 5. Katanya, mereka hanya menikmati layanan air bersih pada malam hari,
sedangkan siangnya tidak ada. “Kalau bisa 24 jam, sebab kebutuhan air kita terkadang lebih banyak pada siang
hari,” tukasnya. (35)
.:: Harian Pagi Sumatera Ekspres Palembang ::.
http://sumeks.co.id _PDF_POWERED _PDF_GENERATED 28 September, 2006, 23:22
4.000 Warga Dempo Siap Diungsikan
Kamis, 28 September 2006
PAGAR ALAM – Apa yang dilakukan jika Gunung Api Dempo sudah membahayakan bagi warga sekitarnya?
Menurut Wali Kota Pagar Alam, Drs H Djazuli Kuris MM, 4.000 warga yang beremukim di pinggang Gunung Dempo akan
diungsikan ke tempat yang lebih aman.
Meningkatnya status Gunung Api Dempo Pagar Alam dari level I atau aktif normal menjadi Waspada atau level II yang
dikeluarkan Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung membuat pihaknya harus lebih ekstra
mempersiapkan segala sesuatunya, terutama menghadapi hal yang terburuk.
“Empat ribu warga tersebut tersebar di dua kelurahan, Gunung Dempo dan Dempo Makmur yang masuk
Kecamatan Pagar Alam Selatan dan Dempo Selatan. Namun nantinya yang paling diutamakan adalah yang di Kampung
IV, Kampung III, Kampung II, dan Kampung I yang berada di sepanjang pinggang Gunung Dempo Pagar Alam. Besok,
kita akan kumpulkan seluruh unsur muspida membahas peningkatan status yang ada,” tegasnya kepada koran ini
di ruang kerjanya, kemarin.
Sementara ini, posko induk masih berada di bawah kendali Bagian Kesbang dan Linmas yang berada di Sekretariat
Pemkot Pagar Alam kompleks Perkantoran Gunung Gare. Sedangkan posko-posko bencana alam sudah disiapkan di
masing-masing kecamatan dalam Kota Pagar Alam. Termasuk bus-bus dan kendaraan PBK sudah disiapkan di pos-pos
yang ditentukan tim Sarkolak Bencana Alam di bawah pengawasan Bagian Kesbang dan Linmas.
Terpisah, Ketua Pos Pemantau Gunung Api Gunung Dempo, Slamet, didampingi stafnya Mulyadi—yang baru
turun dari puncak gunung api—mengatakan, rencananya besok tim Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi dari Bandung akan datang ke Pagar Alam. Mereka akan melihat secara langsung fenomena atau aktivitas
Gunung Api Dempo yang meletus beberapa hari lalu itu dari dekat.
Dari hasil pemantauan langsung ke puncak gunung api, di antaranya adanya lumpur dingin yang sudah keluar menuju
Sungai Bayau, Muara Pinang. Kemudian juga bau belerang yang cukup menyengat di sekitar puncak Gunung Api
Dempo, terdengar pula suara gemuruh air mendidih. Di sekitar dinding kawah dan di puncak gunung api terdapat lumpur
dingin yang tebalnya 1-5 mm yang menempel di batu-batu dan pohon panjang umur dengan bau belerangnya sangat
menyengat.
Ditambahkannya, terlihat juga banyak dinding kawah sudah banyak yang longsor dan retak-retak. Air danau kawah
berukuran sekitar 0,5 m dari bibir kawah. “Yang menjadi tanda tanya saat ini, diduga kepulan asap yang sering
terlihat dari Pagar Alam pada saat letusan bukan berasal dari kawah gunung api, tapi berasal dari luar kawah,”
terangnya seraya mengatakan inilah yang saat sekarang terus menjadi perhatian pihaknya.
Pascaletusan pertama sampai saat ini sudah sering terjadi gempa vulkanik dalam atau kecil yang terpantau dari alat
seismograf di pos pengamatan.
“Dari jam 9-10 tadi malam juga tercatat banyak sekali aktivitas di gunung api tersebut dan alat kita mencatat
terjadinya gempa vulkanik jauh yakni pukul 23.40 dan pukul 07.46 pagi ini,” terangnya seraya mengatakan jika ini
terus berlangsung bisa saja status yang ada naik level III yakni Siaga atau level 4 Awas.
Sementara itu, terpisah Kapolres Pagar Alam AKBP Drs Yudhi Faizal SH, mengatakan, dalam mengantisipasi berbagai
kemungkinan terburuk jika terjadi letusan, pihaknya sudah menyiapkan dua SSK (satuan setingkat kompi) di Mapolres
Pagar Alam.
Bupati Harunata Tinjau Sungai Bayau
Terkait meningkatnya kadar sulfur (belerang) di aliran Sungai Bayau yang membelah Kecamatan Lintang Kanan dan
Pendopo, Bupati Lahat Drs H Harunata MM dijadwalkan hari ini (28/9) akan meninjau langsung ke lokasi.
Kepala Bagian Humas Setda Lahat, Herman Z Ssos, mengatakan, kunjungan bupati dimaksudkan untuk melihat dari
dekat kondisi aliran air Sungai Bayau. Bupati akan pula mengunjungi masyarakat sekitar untuk mengingatkan agar
sementara waktu tak melakukan aktivitas penambangan di sungai itu.
“Pak bupati dijadwalkan akan juga memberikan imbauan kepada masyarakat Muara Pinang dan sekitarnya
untuk tetap siaga dan waspada jika mungkin terjadi hal-hal yang tak diinginkan,” singkat Herman.
Sementara itu, dalam wawancara singkat Bupati Harunata bersama koran ini beberapa waktu lalu, disebutkan bupati
jika pemerintah Kabupaten Lahat saat ini telah dalam kondisi siap siaga jika terjadi kemungkinan terburuk. Strategi dan
persiapan yang dilakukan termasuk langkah penanganan evakuasi dan penanggulangan korban bencana. (44/20)
.:: Harian Pagi Sumatera Ekspres Palembang ::.
http://sumeks.co.id _PDF_POWERED _PDF_GENERATED 28 September, 2006, 23:26
4 Oktober, Pengurus SFC ke Baturaja
Kamis, 28 September 2006
PALEMBANG - Menindaklanjuti persiapan launching skuad Sriwijaya FC 2007, pengurus SFC mulai melakukan gerakan.
Menurut rencana, 4 Oktober mendatang manajemen SFC seperti MC Bariyadi (manajer), Bambang Supeno (sekretaris
tim), Drs Syamsurramel (sekum PSSI Sumsel), Faisal Mursyid (wakil sekretaris umum) akan berangkat ke Baturaja.
“Kemungikinan usai meninjau persiapan Baturaja, pengurus SFC juga akan meninjau Prabumulih atau bisa juga
ke Lubuk Lingau. Ya, tergantung situasi dan kondisinya nanti. Yang jelas kita akan meninjau kondisi lapangan sepak
bola di sana dan juga persiapan lainnya,” ungkap MC Bariyadi, kemarin (27/9).
Pengurus SFC benar-benar akan membuktikan bahwa tim sepak bola yang berjuluk Laskar Sriwijaya ini memang milik
masyarakat Sumsel. Tidak hanya dominan di Palembang saja tapi daerah-daerah lain di Sumsel juga berhak mengenal
dan menyaksikan langsung tim SFC, terutama seluruh punggawanya.
Lantas, seandainya nanti ada kekurangan atau hal-hal yang mesti diperbaiki pengurus PSSI di Baturaja atau
Prabumulih, apakah manajemen SFC akan memberikan bantuan material? “Masalah itu nanti akan kita bicarakan
lebih lanjut, soalnya ini menyangkut tim SFC sendiri. Bagaimana baiknya, akan kita rapatkan lagi. Selain meninjau
lapangan sepak bola, kita membahas persiapan secara kesulurahan dengan panitia di sana sebelum launching
SFC,” cetus pengusaha sukses ini.
Informasi terakhir, memang ada dua tempat yang akan dijadikan arena launching, yaitu Baturaja dan Prabumulih.
Tetapi tidak menutup kemungkinan juga merambah ke kota-kota lainnya, seperti Lubuk Linggau. Apalagi antusias
masyarakat Lubuk Linggau juga sangat tinggi terhadap Andi Odang dan kawan-kawan. (mg2)
.:: Harian Pagi Sumatera Ekspres Palembang ::.
http://sumeks.co.id _PDF_POWERED _PDF_GENERATED 28 September, 2006, 23:26
Otonomi Setengah Hati
Minggu, 03 September 2006
Judul Buku : Potret Pemerintahan Lokal di Indonesia di Masa
Perubahan
Penulis : Tri Ratnawati
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : I, Juli 2006
Tebal : xx + 418 Halaman
Rezim otoritarianisme Orde Baru yang menerapkan pemerintahan secara sentralistis dengan UU No.5/74 telah
memasung potensi dan kearifan lokal (local wisdom). Akibatnya, cita-cita demokrasi sepenuhnya gagal diterapkan di
bumi pertiwi yang kaya keanekaragaman sumber daya alam dan manusia ini. Pasca tumbangnya kekuasaan despotis
tersebut, paradigma desentralisasi dan demokratisasi mendapatkan apresiasi luas dari publik. Melalui UU No 22/99 yang
kemudian diganti dengan UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, semua kebijakan pemerintahan tidak lagi
didominasi oleh pusat.
Dalam buku yang ditulis berdasarkan penelitian pelaksanaan otonomi daerah baik tingkat I maupun tingkat II, serta
dipadukan dengan berbagai studi kepustakaan, pembaca dapat menemukan wajah demokrasi yang sebenarnya.
Sebagaimana dalam World Development Report 1999/2000, ’’Decentralization: Rethinking
Government’’, desentralisasi telah menjadi global trend sekaligus kebutuhan masyarakat di dunia untuk
mempunyai hak yang lebih besar dalam menentukan nasib sendiri dan mempunyai pengaruh terhadap pemerintah.
Sekitar 95 persen negara demokrasi melakukan devolusi politik, fiskal, dan kekuasaan administratif ke pemerintah lokal.
Namun tidak semua penyelenggaraan pemerintahan harus didesentralisasikan, khususnya menyangkut hal-hal yang
esensial. Dalam Pasal 13 (UU No 32/2004) telah diatur tentang pembagian urusan pemerintah pusat yang meliputi politik
luar negeri, pertahanan dan keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional serta agama. Kewenangan pemerintah
daerah meliputi perencanaan dan pengendalian pembangunan, perencanaan dan pengawasan tata ruang, kamtibmas,
penyediaan prasarana umum, kesehatan, pendidikan, SDM, koperasi, lingkungan dan pertanahan. Artinya,
desentralisasi tidak mengharuskan semua kekuasaan pusat didelegasikan ke daerah, khususnya untuk kewenangankewenangan
yang bersifat strategis (hlm. 378).
Studi kasus di Kabupaten Bantul menunjukkan bahwa demokratisasi pemerintahan lokal sulit terwujud tanpa adanya
partisipasi politik (political engagement) dan kontrol dari publik. Terlebih perekonomian di Bantul masih bersandar pada
karakteristiknya yang agraris selain industri rumah tangga. Wajar jika ketergantungan keuangan terhadap pemerintah
pusat lumayan tinggi. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bantul pada 2004 hanya Rp 33 miliar. Proporsi PAD dalam APBD
Kabupaten Bantul adalah sekitar 10 persen dari jumlah dana perimbangan (dana dari pusat) yang untuk Kabupaten
Bantul besarnya lebih dari Rp 326 miliar. Apalagi kondisi sekarang Bantul harus merangkak dari nol lagi karena diterpa
gempa bumi 27 Mei silam.
Bila dibandingkan dengan Kabupaten Nunukan yang baru berdiri lima tahun, daerah ini berbatasan langsung dengan
Malaysia. Di satu pihak Nunukan menyimpan potensi pembangunan khususnya sumber daya kelautan/perikanan,
kehutanan/perkebunan, dan perdagangan. Namun di pihak lain, SDM-nya terbatas secara kuantitas maupun kualitas.
Belum lagi konflik mengenai pengelolaan otonomi daerah yang sampai sekarang masih menjadi bumerang. Wilayah
perbatasan Nunukan-Malaysia selama ini juga rawan terhadap penyelundupan orang dan barang, penebangan liar
(illegal logging), penyelundupan TKI, pencurian ikan, penyelundupan rokok, BBM, narkoba dan lain-lain yang merugikan
Indonesia dan cenderung menguntungkan Malaysia (hlm. 106).
Yang menarik menjadi sorotan adalah pelaksanaan otonomi daerah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang
merupakan provinsi baru (provinsi ke-31). Secara geopolitik, Provinsi Babel sangat strategis karena posisi geografisnya
dalam jalur pelayaran internasional. Faktor ini menyediakan peluang ekonomi yang cukup besar, khususnya transportasi
muatan barang yang sangat padat di lingkar tepi Pasifik (Pasifik Rim) dengan Singapura sebagai pusatnya. Kekayaan
migas dan hutan menjadi penopang utama perekonomian di Babel.
Beberapa kasus empiris di berbagai daerah tersebut setidaknya memberikan potret dan kecenderungan-kecenderungan
pemerintahan lokal di masa perubahan yang cukup sulit itu (masa transisi dari rezim otoriter ke pemerintahan yang lebih
demokratis). Kendatipun lima tahun pelaksanaan otonomi daerah memberikan banyak perubahan, seperti good
practices, perbaikan pelayanan masyarakat dan penguatan kembali local wisdom yang melemah pada masa Orde Baru,
yang dominan hanya pada pemerintah daerah, yang terbatas pada struktur organisasi serta manajemen yang lebih
otonom dalam pembuatan keputusan. Sedangkan kultur dan tingkah laku birokrasi lokal belum mengalami perubahan
yang signifikan.
Puncaknya, otonomi daerah belum memberikan kesejahteraan rakyat yang terpuruk sejak krisis ekonomi dan politik
1997. Cita-cita untuk menyingkap batas hubungan antara rakyat dan negara di tingkat lokal, justru cenderung
menjauhkan hati rakyat dengan pemda. Hal ini terjadi karena birokrasi lokal yang berorientasi kerakyatan dan aspekaspek
transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas sangat lemah. Di pihak lain, fasilitasi dan supervisi dari pemerintah
pusat terhadap daerah masih sangat minim. Kelemahan penyelenggaraan desentralisasi pemerintah daerah seringkali
dijawab pusat dengan keinginan untuk melakukan resentralisasi.
Kesimpulannya, baik pemerintah pusat maupun daerah selama ini masih memerankan ’’otonomi
setengah hati’’, tidak merancang dan melaksanakan kebijakan desentralisasi serta otonomi daerah yang
berkerakyatan, berpendekatan kewilayahan/kawasan, dan visioner menuju masyarakat Indonesia yang modern,
.:: Harian Pagi Sumatera Ekspres Palembang ::.
http://sumeks.co.id _PDF_POWERED _PDF_GENERATED 28 September, 2006, 23:34
demokratis dan kompetitif di era globalisasi. Vedi R. Hadiz mengatakan, desentralisasi pasca Soeharto adalah masalah
kekuasaan yang ditandai oleh kecenderungan proses-proses dan institusi-institusi desentralisasi
’’ditangkap’’ oleh kekuatan-kekuatan dan kepentingan-kepentingan besar predatori lama
(Orde Baru), baik di tingkat lokal maupun nasional, dibungkus dalam format yang desentralistik dan demokratis (hlm.
384).
Buku ini sungguh berharga, terutama akademisi yang konsentrasi meneliti perkembangan demokrasi dan otonomi
daerah. Ternyata gaung yang besar tidak juga memberikan perubahan berarti bagi kesejahteraan dan keadilan bagi
rakyat yang tertindas. Terlebih ketika cobaan bencana bertubi-tubi menghantam bumi pertiwi yang mencita-citakan
demokrasi sejati. [Gugun El-Guyanie]
.:: Harian Pagi Sumatera Ekspres Palembang ::.
http://sumeks.co.id _PDF_POWERED _PDF_GENERATED 28 September, 2006, 23:34
Kematian sebagai Cita-cita
Minggu, 24 September 2006
Judul Buku : Lelaki Ikan
Penulis : Hudan Hidayat
Penerbit : Buku Kompas, Jakarta
Cetakan : Pertama, September 2006
Tebal : 256 halaman
Sambil bergurau, iseng-iseng saya pernah bertanya pada Hudan Hidayat, ’’Kau sudah jadi pengarang,
jabatan di kantor juga sudah punya, hidupmu lebih mapan dibanding teman-teman pengarang lain, apa lagi yang kau
inginkan Dan?’’ Dengan santai Hudan menjawab, ’’Aku pingin tahu bagaimana rasanya
mati!’’ Saya terperangah. ’’Ngawur! Sudah bosan hidup kau rupanya?’’ kata
saya. ’’Ya, aku memang sudah kepingin mati!’’ balas Hudan lagi.
Semula, saya tidak terlalu gamang dengan tabiat ganjil Hudan yang memang suka bermain-main. Tapi, setelah
membaca dan mendalami karya-karya fiksinya sejak dari Orang Sakit, Keluarga Gila hingga Tuan & Nona Kosong, saya
mulai cemas kalau-kalau sahabat saya itu tidak berumur panjang. Betapa tidak? Ekplorasi tematik dalam proses
kreatifnya benar-benar tidak berjarak dengan keinginannya mengecap rasa mati. Pilihannya jatuh pada kematian
sebagai cita-cita estetik.
Belakangan, eskalasi kecemasan saya pada Hudan makin meningkat, lebih-lebih setelah buku keempatnya, Lelaki
Ikan, diterbitkan. Cerpenis ini makin berdalam-dalam menyelami tema kematian. Narasi prosaiknya begitu akrab dengan
bunuh diri, sakratul maut, belati, dan pistol. Seolah-olah hingar-bingar kehidupan tidak lagi menggiurkan baginya.
Seakan-akan hidup tak lagi bermutu. Jangan-jangan kematian memang lebih bermutu ketimbang kehidupan, atau
kematian adalah kehidupan baru yang lebih nyaman. Lalu? Ya, ayo kita bergegas menjemput ajal. Menyongsong maut.
Bila hanya menunggu, ajal tak bisa dipastikan. Maka, seyogyanya kita mengejar dan meraihnya, agar kematian lebih
pasti, lebih segera.
Begitulah tabiat literer Hudan dalam Parit Terakhir. Tokoh rekaannya tak hanya ingin mengecap rasa mati, juga hendak
menyaksikan proses lepasnya nyawa dari badan. Ingin mencicipi kematian serupa mengecap sepotong pizza, sekerat
demi sekerat. Hudan melakukan desakralisasi makna kematian. Ajal yang metafisik dan suprainderawi diprofankan
hingga mewujud seperti kue. Enak dimakan, lebih-lebih saat lapar menyerang. Sekarat tak lagi sakit, tapi nikmat. Imaji
kekerasan, pembunuhan, dan perilaku paranoid merupakan resistensi yang harus ditanggung setiap watak yang
terbangun dalam cerpen-cerpen Hudan (Ulat di Hati, Senar Putus, Parit Terakhir, Nampan Mati). Tapi, sejatinya ia tidak
sedang merayakan imaji brutalitas dan sadomasokis itu. Kegilaaan mempermainkan hasrat mencincang ayah, nafsu
membantai ibu (Lampu Kristal Pecah) hanya sekadar medium untuk menggapai kematian. Ibu menggebu-gebu ingin
menyembelih ayah, ayah tidak sabar ingin menyudahi hidup ibu, begitu pun tokoh anak (aku) yang juga ingin bergegas
membunuh keduanya. Bukankah hasrat gila yang bergejolak dalam watak tokoh-tokoh itu berhulu pada kematian? Jadi,
yang penting bukan pembunuhannya, tapi ketersampaian obsesi masing-masing tokoh pada kematian yang diidamidamkan.
Ada yang ganjil soal pesakitan dan kegilaan Hudan pada tema kematian. Ia selalu membawa-bawa Tuhan.
Apa hubungannya? Mencermati cerpen-cerpen dalam buku ini, saya mulai ragu. Apakah benar obsesi literer cerpencerpen
Hudan itu rindu kematian? Ah, jangan-jangan tidak merindukan kematian, tapi merindukan Tuhan. Kematian (lagilagi)
hanyalah wasilah untuk menggapai Tuhan. Di titik ini saya membaca kompleksitas kerumitan eksplorasi estetik
Hudan. Kerumitan itu mempersulit saya menjangkau hulu pelayaran estetiknya. Kekerasan, kematian atau rindu bertemu
Tuhan? Jalin-menjalin, himpit-menghimpit, tindih-menindih serupa jalinan ratusan benang di dalam kain tenun. Padat.
Kokoh. Bergelintin. Sukar diurai. Sewaktu-waktu imaji kekerasan begitu kentara, tapi (di saat yang sama) juga tercium
aroma kematian yang menyengat, sekaligus gejolak kerinduan sufistik akan Tuhan yang sukar terkendali. Lalu, apa
maunya cerpen-cerpen Hudan itu?
Di bagian pengantar buku ini, Hudan menulis wejangan perihal pesakitan dan kegilaan yang keduanya berujung pada:
mati. Wejangan ini diperkuat oleh catatan penutup Mariana Amiruddin bahwa Hudan itu sakit ’’sesakitsakit&
rsquo;’-nya, gila ’’segila-gila’’-nya. Maka, proses kreatif Hudan adalah terapi
penyembuhannya. Mariana keliru membaca sosok kepengarangan Hudan. Sebab, sakit dan gila itu bukanlah muaranya.
Itu hanya akibat dari kecamuk rindu hendak merangkul Tuhan. Lihatlah kegelisahan tokoh aku pada Ayat Gelap.
Terombang-ambing antara menerima atau menolak Tuhan. Sebuah gelagat ingin membuktikan apakah Tuhan itu ada
atau tidak. Inilah kerinduan asketik yang selalu menggelora dalam ruh karya-karya Hudan.
Buku ini memperlihatkan perubahan idealisme Hudan sebagai kreator yang biasanya kurang bersetuju dengan gaya
surealisme. Kini ia menulis Lelaki Ikan, sekaligus dipilih sebagai judul buku. Saya berusaha mengggali muasal kenapa
tokoh lelaki dalam cerpen itu tiba-tiba saja kakinya bersisik dan lama-kelamaan berubah jadi ikan, tapi tak kunjung saya
temukan. Saya hanya mampu menangkap pertanda bahwa manusia yang memilih berubah wujud jadi ikan, tentulah
manusia yang sudah mati. Ia lupakan anak dan istri di darat, lalu hidup di laut sebagai ikan yang aneh. Lagi-lagi soal
mati bukan?
Kalaupun cerpen ini agak berbeda dari cerpen lain, itu terasa pada eksperimentasi teknik bercerita. Hal yang jarang
dilakukan Hudan sebelumnya. Biasanya, Hudan meluap-luap, menggebu-gebu, tergesa-gesa. Kini, ia agak tenang,
lentur, santun. Tidakkah lagi ia memilih imaji kekerasan sebagai jalan menuju kematian? Atau ia sudah menggapai
kematian dengan cara yang lain? Mati dengan cara menjadi ikan, misalnya. Jawabnya, hanya Hudan dan Tuhan yang
tahu.
.:: Harian Pagi Sumatera Ekspres Palembang ::.
http://sumeks.co.id _PDF_POWERED _PDF_GENERATED 28 September, 2006, 23:38