Archive for April, 2006

Sejarah Masuknya Islam di Palembang

Wednesday, April 19th, 2006

Sejarah Masuknya Islam di Palembang

Islam masuk ke Palembang diperkirakan pada awal abad ke-1 hijriah atau abad ke-8 Masehi. Seper­ti halnya penyebaran Islam ke belahan wilayah Nu­san­tara lainnya, sumber-sumber sejarah menyebut­kan penyebaran Islam ke kota Palembang juga melalui jalur pelayaran dan perniagaan. Para pedagang muslim dari Arab, Cina dan India yang  berusaha di kota ini sangat diterima oleh masyarakat Palem­bang yang pada waktu itu masih di bawah naungan Kerajaan Sriwijaya. Interaksi pedagang muslim dari mancanegara ini dengan komunitas penduduk setempat cukup tinggi dan baik, sehingga penerimaan Islam di kalangan penduduk berjalan mulus dan damai.

Kedatangan pedagang muslim asing tersebut di­sebab­kan terjadinya peristiwa pemberontakan petani-petani Cina terhadap kekuasaan T’ang pada masa pemerintahan Kaisar Hi-Tsung (878-889 M). Kaum muslimin banyak mati dibunuh dalam pemberontakan itu, sehingga mereka yang selamat melarikan diri ke berbagai negara, termasuk ke kota Palembang, yang menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya  dan Kedah, Malaysia. Penguasa dinasti Sriwijaya menerima eksodus kaum muslim ini dan akhirnya mereka membentuk komunitas muslim di wilayah kekuasaan kerajaan maritim tersebut. Lambat laun, Islam tersebar ke pelosok negeri, bahkan keberadaan kaum  muslimin yang umumnya berniaga tersebut dilindungi pihak penguasa kerajaan Sriwijaya,   guna menjaga kepentingan bisnis keluarga mereka.

Apalagi, Islam disebarkan lewat sikap toleransi yang tinggi dengan ajaran-ajaran yang bersifat rasional dan transparan, sehingga dapat diterima  rakyat kebanyakan. Masuknya Islam ke Palembang sama sekali tidak mengandalkan kekuasaan (power).

Sepanjang abad ke-7 hingga abad ke-14 M, Islam di kota Palembang tumbuh dan berkembang dengan pesat. Bersamaan dengan itu, masa keemasan Kerajaan Sriwijaya berangsur-angsur mulai pudar, sehingga akumulasi  komunitas kaum pedagang muslim makin mengental. Tokoh-tokoh ulama dan pemuka masyarakat dengan intensif membina umat  pada awal memasuki abad ke-15 M. Namun per-kembangan dan penyebaran Islam ke pelosok-pelosok pedalaman di Sumatera Selatan  bukan tidak ada tantangan. Pada zaman kolonial Belanda yang bercokol di Nusantara sangat tidak menginginkan Islam maju. Dengan berbagai cara dan upaya, Islam harus dihambat.

Bagai menekan bola di air, umat Islam justru merapatkan barisan dengan semangat patriotisme, jihad fi sabilillah, menentang penjajahan Belanda. Peranan ulama Syech Abdul Al-Samad Al Jawi Al Palembani  sangat besar  pasca berakhirnya kerajaan Palembang pada awal abad ke-19 M. Penentangan terhadap kolonial Belanda tidak pernah surut di kalangan umat Islam, bahkan semakin bergelora. Perang Aceh dan perlawanan rakyat di Jawa diilhami ajaran Palembani. Penentangan juga  terjadi pada rentang waktu pertengahan abad ke-16 M sampai awal abad ke-19 M yang dipelopori Pahlawan Nasional Sultan Mahmud Badaruddin II, yang memerintah Kesultanan Palembang Darussalam pada 1803-1831 M.

20 Tahun Yang Tersia-Sia

Tuesday, April 18th, 2006

            

         

       

Reporter : Iwan Munandar
Cameraman : Iwan Agung
Tayang : Rabu, 29 Maret 2006 Pukul 12:00 WIB

indosiar.com, Sumatera Selatan - Beginilah potret kehidupan
guru bantu. Namanya Masrifah. Ia merupakan guru bantu di Sekolah Dasar
Negeri 3 di Desa Tanjung Pinang, Kecamatan Tanjung Batu, Ogan Ilir,
Sumatera Selatan.

Sejak awal pengabdiannya, Masrifah sadar benar bahwa pekerjaan ini
tidak memberinya materi berlimpah. Namun tekadnya tetap bulat, mengabdi
sebagai guru di desa asalnya, setelah tamat dari Sekolah Pendidikan
Guru di Palembang, Sumatera Selatan, tahun 1986 silam. Walaupun gajinya
kala itu, hanya 7 ribu rupiah per bulan.

Meskipun telah hampir 20 tahun menjadi guru, status Masrifah hanya
sebagai guru bantu, yang tidak jauh berbeda dengan guru honorer. Sudah
lima kali Masrifah mengikuti tes masuk calon pegawai negeri sipil
(CPNS).

Namun berulang kali pula kekecewaan yang didapatnya. Terakhir, pada
bulan Februari lalu, Masrifah kemBali ikut tes, namun kebijakan baru
pemerintah telah memupus harapannya.

Menurut
Masrifah, yang menjadi kendala bagi dirinya adalah masalah umur.
Semula, bagi guru bantu yang sudah berumur 46 tahun, honor 10 tahun
dijanjikan akan langsung diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Namun
ketentuan tersebut diubah, sehingga dirinya tidak lagi memiliki peluang
diangkat menjadi pegawai negeri sipil.

Untuk memperoleh penghasilan tambahan, Masrifah menenun kain
songket. Kebetulan ia menguasai keterampilan menenun kain bersulam
benang emas khas Sumatera Selatan ini, sejak masih remaja.

Dalam satu bulan, wanita berusia 42 tahun ini dapat membuat satu
set kain songket, dengan upah tujuh puluh lima ribu rupiah. Penghasilan
tambahan ini dapat membantu perekonomian keluarganya, yang memiliki
empat anak, dimana tiga orang diantaranya masih sekolah di SD, SMP dan
SMU.
 
Penghasilan suaminya sebagai pengemudi kendaraan berat, tidak terlalu besar, hanya 30 ribu rupiah perhari.

Nasib yang sama dialami Nurmala. Seorang guru bantu berusia 39
tahun, yang mengajar di Sekolah Dasar Negeri Limbang Jaya, Kecamatan
Tanjung Batu, Ogan Ilir Sumatera Selatan.

Sejak lulus Sekolah Pendidikan Guru pada tahun 1986, Nurmala
mengabdikan dirinya sebagai guru honorer. Bahkan Nurmala pernah
bertugas di sebuah desa tertinggal yang letaknya lebih dari 200
kilometer dari rumahnya. Hal tersebut membuat kedua orangtuanya
prihatin.

Sebagai
guru bantu, Nurmala kerapkali dijanjikan akan diangkat sebagai pegawai
negeri sipil oleh pemerintah daerah setempat. Namun hingga kini, hal
itu hanya sebatas janji yang belum menjadi kenyataan.

Menurut Nurmala, ketika dirinya menandatangani perpanjangan kontrak,
bupati setempat datang menemui dirinya bersama teman-temannya.

Semua guru bantu dijanjikan akan diangkat semua menjadi pegawai
negeri sipil, tanpa membedakan umur. Tapi kemudian keluar lagi
keputusan baru pemerintah yang memupus semua harapannya untuk diangkat
menjadi pegawai negeri sipil.

Untuk menambah penghasilannya, Nurmala juga menenun kain songket.
Dari setiap lembar kain yang ditenunnya setiap bulan, ia memperoleh
penghasilan seratus dua puluh lima ribu rupiah.

Nurmala dan Masrifah adalah potret suramnya nasib guru bantu. Gaji
mereka sebesar 710 ribu rupiah perbulan, kerapkali terlambat dibayar.
Gaji bulan Januari hingga bulan Maret ini misalnya, baru pada
pertengahan bulan Maret lalu keluar.

Nasib
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa ini sungguh ironis. Padahal menurut Kepala
SDN 3 Tanjung Pinang, para guru bantu tersebut sangat berperan dalam
mencerdaskan generasi muda bangsa.

Untuk merubah nasib guru bantu, pemerintah harus turun tangan.
Keberadaan mereka tidak terlepas dari program pemerintah menyediakan
tenaga pengajar.

Karena itu, sudah sepatutnya perngorbanan dan jerih payah mereka
juga dihargai, dengan sebuah status yang jelas, yang dapat menjadi
kebanggaan, sekaligus sebagai sumber mata pencarian yang menjamin masa
depan. (Sup)

            

 

       
          
            

SEJARAH ISLAM DI INDONESIA

Tuesday, April 18th, 2006

SEJARAH ISLAM DI INDONESIA

Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.

Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin.

Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah - terutama Belanda - menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.

Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.

Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi’i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).

(Bersambung)