Benteng Kuto Besak
Monday, December 19th, 2005
<!–
@media print {
body {
padding-top:1in;
padding-bottom:1in;
padding-left:1in;
padding-right:1in;
}
}
body {
text-decoration:none;
text-indent:0in;
orphans:0;
text-align:left;
font-variant:normal;
font-weight:normal;
color:#000000;
font-size:12pt;
font-style:normal;
widows:0;
font-family:’Times New Roman’;
}
table {
}
td {
border-collapse:collapse;
text-align:left;
vertical-align:top;
}
p, h1, h2, h3, li {
color:#000000;
font-family:’Times New Roman’;
font-size:12pt;
orphans:0;
text-align:left;
vertical-align:normal;
widows:0;
}
–>
Benteng Kuto Besak Palembang
Kuto Besak adalah pusat Kesultanan Palembang Darrussalam. Sebagai pusat kebudayaan tradisional yang mengalami proses perubahan dari Zaman Madya menuju Zaman Baru. Di abad ke 19, menjadikan sejarah Kuto Besak mempunyai keunikan tersendiri. Gagasan mendirikan Benteng Kuto Besak di Prakarsai oleh Sultan mahmud Bdaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758 dan pelaksanaan pembangunannya diselesaikan oleh penerusnya yaitu Sultan Mahmud Bahauddin yang memerintah pada tahun 1776-1803. Sultan Mahmud Bahauddin ini adalah seorang tokoh kesultanan Palembang Darussalam yang realistis dan praktis dalam perdagangan Internasional serta seorang agamawan yang menjadikan Palembang sebagai pusat Sastra agama di Nusantara. Benteng ini mulai di bangun pada tahun 1780 dengan arsitektur yang tidak di ketahui dengan pasti dan pelaksanaan pengawaasan pekerjaan dipercayakan pada seorang China. Semen perekat bata dipergunakan batu kapur yang ada di daerah pedalaman Sungai Ogan di tambah dengan putih telur. Waktu yang dipergunakan untuk membangun Kuto Besak ini cukup lama kurang lebih 17 tahun. Ditempati secara resmi pada hari Senin pada tanggal 21 Februari 1797.
Museum Negeri
Di bangun tahun 1977-1978 di atastanah seluas 23.565 m2. Di museum ini terdapat kurang lebih 2000 koleksi barang-barang kuno hasil seni budaya dan peninggalan sejarah daerah Sumatera Selatan.
Jembatan Ampera
Objek wisata Jembatan Ampera yang di bangun tahun1962 hingga 1965, memiliki menara setinggi 78 meter. Jembatan ini membentang di atas sungai Musi, pada awalnya jembatan ini bisa di naikkan dan di turunkan setiap ada kapal besar yang lewat di bawahnya.