SEJARAH KOTA PALEMBANG (SRIWDJAJA)
Berdasarkan Batu Bersurat (Prasasti) Kedukan Bukit, hari jadi kota palembang adalah tanggal 5 bulan Ashada tahun 605 Syaka. Bertepatan dengan tanggal 17 Juni 683 Masehi. Batu Bersurat ditemukan oleh Contreleur Batenberg d tepi Sungai Kedukan Bukit, Yakni diantara Bukit Seguntang dangan Situs Karanganyar pada tahun 1926.
Batu Bersurat (Surat Palawa, Bahasa Melayu Kuno) tersebut oleh penduduk Kampung Kedukan Bukit waktu itu dijadikan semacam tumbal bila akan mengikuti Lomba Bidar, Yakni dengan cara meletakkan dihaluan Bidar yang akan diperlombakan. Kemudian Batu Bersurat Kedukan Bukit itu di telaah oleh pakar Sejarah dan kebudayaan, diantaranya Prof. M. Yamin yang menyatakan itulah Proklamasi (Penggalian/Pemindahan) Ibu Kota Sriwidjaja (dari tempat lain) ke Bukit Seguntang.
Surat pada Batu “Sakti-Bertuah” itu berbunyi sebagai berikut : Swasti Sri Sakawarstita 605 Ekadasisu (1) Klapaksa Wulan Waiskha Dapunta Hyang Naik di (2) Samwa Mangalap Siddhayartra (.) Di Saptami Suklapaksa (3) Wulan Jyestha Dapunta hYANG Marlapas Dari Minanga (4) Tamwa (air bertemuan = muara sungai) Mamawa Yang Wala Dua Laksa Dengan Kosa (5) Dua Retus Cara Di Samwan Dengan Jalan Sariwu (6) Tlu Ratus Sepuluh Dua Wanyaknya datang Di Mukha (7) Suka Citta (.) Di Pancami Suklapaksa Wulan Asada (8) Laghu Mudita Datang Marwuat Wanua (9) Sri Wijaya Jaya Siddhayatra Subhiksa Ni(t)y (Alaka) 10.
Palembang berfungsi sebagai pusat Sriwijaya dari abad ke-7 (tahun 683 Masehi) hingga abad ke-13 (Ekspedisi Pamelayu 1275). Pada abad ke-17 Kota Palembang menjadi Ibu Kota Kesultanan Palembang Darussalam yang diProklamirkan oleh Pangeran Ratu Kimes Hindi Sri Susuhanan Abdurahman Candiwalang Khalifatul Mukminin Sayidul Iman sebagai Sultan Pertama (1643-1651). Tanggal 7 Oktober 1823 Kesultanan Palembang dihapuskanan. Kemudian Kota Palembang dijadikan Gameente/Haminte berdasarkan stbld.No. 126 Tahun 1906 tanggal 1 April 1906.
Wanus (Negari = Kota) pusat kedatuan Sriwidjaya, Berdasarkan Piagam Batu Bersurat di Kedukan Bukit (Prasasti Kedukan Bukit, 5 Asada 605 Syake = 17 Juni 683 Masehi) Kadipaten (Keadipatian di bawah Majapahit masa Adipati Aria Damar (Ariokollah) anak Prabu Brawijaya Kartabhumi, Bitara/Raja Majapahit terakhir. Ario Damar (Ariodillah) berkuasa di Palembang 1445-1485, Digantikan oleh Bupati Karang Widara). Pusat Kerajaan dibawah pengaruh Demak, Sejak Ki Gede Ing Suro Tuwo anak Priyayi Demak Pangeran Sido Ing Lautan (1540-1545) hingga Raja Palembang ke-9 Pangeran Sido Ing Rajek anak Pangeran Sido Ing Pesarean Sabokingking (1620-1629) pusat Kesultanan Palembang Darussalam, Sejak Raja Palembang ke-10, Kimas Hindi (Kimes Cinde) atau Sultan/Sunan Abdurrahman Khalifatul Mukiminin Sayidul Iman memproklamirkan Palembang lepas dari Demak. Komisariat di bawah Pemerintahan Hindia Belanda sejak Contrack 18 Agustus 1823, Commisaris Sevenhoven pejabat Pemerintah Belanda Pertama.
Gemeenta (”Hminte”) Palembang berdasarkan Stbld. No. 126 Tahun 1906 tanggal 1 April 1906 hingga masuknya Jepang 19 Februari 1942. Palembang Syi yang dipimpin Syi-Co (Walikota) 1942 hingga kemerdekaan RI. Kota kelas A, berdasarkan keputusan Gubernur Kdh. Tk. I Sumatera Selatan No. 103 Tahun 1945. Kota besar, berdasarkan UU No. 22 Tahun 1948, Kotamadya, Berdasarkan UU No. 18 Tahun 1965. Kotamadya Daerah Tingkat II Palembang, Berdasarkan UU No. 5 Tahun 1974 Tanggal 23 Juli 1974 tentang pokok-pokok Pemerintahan di daerah.