Archive for October, 2005

Tuesday, October 18th, 2005

BULAN RAMADHAN BULAN PENUH BERKAH
By. AWANK
Dengan adanya otonomi daerah provinsi Sumatera Barat mulai melakukan perombakan-perombakan, dan mulai melaksanakan/kembali pada “Adat Bersandi Sarak, Sarak Bersandi Kitabullah” atau Kembali Kesurau yang artinya melaksanakan dengan syariat Islam. Hal ini dengan adanya pemberantasan Prostitusi, Narkoba, Judi (Togel), Miras. Pelaksanaan pemberantasan ini telah dilaksanakan oleh wali kota Padang dan segenap warga Sumatera Barat.
Para siswa/i mulai dari TK, SD setiap lelaki memakai celana panjang dan perempuan memakai jilbab SLTP, SLTA para perumpuan diwajibkan jilbab. Hal ini wali kota juga masih menunggu atau mengharapkan mahasiswa/i di seluruh provinsi Sumatera Barat.
Di bulan Ramadhan wali kota padang dan gubernur Sumatera Barat mewajibkan seluruh pelajar siswa/i mulai dari SD, SLTP, SLTA melaksanakan pesantren kilat baik di sekolah-sekolah maupun di masjid/musholah terdekat. Jikalau ada siswa/i yang tidak ikut melaksanakan pesantren kilat tersebut pada mata pelajaran Agama siswa/i tersebut di anggap gagal nilai atau tidak bisa mengikuti ujian MID/UAS. Di bulan ramadhan di mesjid-mesjid atau musholah-musholah banyak yang didatangi para pelajar siswa/i yang melaksanakan pesantren kilat. Tidak hanya di bulan ramadhan yang penuh berkah saja pada bulan-bulan lainnya para pelajar siswa/i juga diwajibkan mengikuti wirid mingguan di mesjid-mesjid atau musholah-musholah terdekat itu merupakan nilai tambah pada mata pelajaran agama mereka. (End)

Monday, October 17th, 2005

Istri Masinis Tewas Ditabrak Kereta

BATURAJA, SRIPO — Peristiwa tragis menimpa Ny Trimulyowati binti M Kalil (48), istri masinis kereta api ini tewas terpotong empat bagian, akibat ditabrak kereta api yang sedang langsir, Senin (4/11). Kereta nomor lokomotif 5503 tersebut saat itu dimasinisi oleh Suk (40) dengan asisten masinis Yon (36).
Saat kejadian suami korban bernama Sutiman (50) yang juga berprofesi sebagai masinis, sedang shalat di rumah. Menurut informasi di lokasi kejadian, peristiwa yang menggemparkan keluarga besar PT Kereta Api Indonesia di Baturaja ini, terjadi sekitar pukul 12.05 di rel kereta dekat Stasiun Tiga Gajah, Baturaja.
Sebelum peristiwa memilukan, korban berpamitan dengan suaminya mau membeli minyak ke warung untuk keperluan memasak di kantinnya, karena dia juga membuka kantin untuk melayani pegawai kereta api di Stasiun Tiga Gajah. Sekitar pukul 13.05 saat korban akan pulang ke rumah, ada kereta klingker pengangkut semen yang saat itu lokomotifnya mengarah ke arah Baturaja. Korban lalu naik kereta api tersebut, saat akan turun diduga baju korban tersangkut dan tiba-tiba korban terjatuh dari kereta dan langsung tergilas roda kereta yang sedang mundur.
Tak pelak lagi, tubuh korban langsung disambar kereta api. Korban langsung tewas di lokasi kejadian dekat Stasiun Tiga Gajah. Kondisi tubuh korban sangat memprihatinkan, terpotong empat. Kepala terpisah dari badan, tangan kanan putus, dan pergelangan tangan kiri juga putus. Akibat kecelakaan kereta ini, tubuh ibu empat anak ini sempat terseret sejauh 20 meter dari lokasi kejadian.
Musibah yang menimpa wanita malang ini dalam waktu beberapa menit kemudian sudah tersiar ke seluruh penjuru, khususnya lokasi kejadian. Saat ada warga yang menyampaikan berita duka tentang musibah yang menimpa Ny Trimulyowati ini, suami korban sedang menunaikan shalat zuhur. Mendapat informai itu, suami korban segera meluncur ke lokasi kejadian, tiba di lokasi warga sudah ramai dan petugas dibantu warga segera mengangkat mayat korban dan melarikan ke Rumah Sakit Dr Ibnu Sutowo.
Dikubur Usai Magrib
Petugas rumah sakit juga menjahit untuk menyatukan bagian tubuh korban yang terpisah akibat ditabrak kereta api yang sedang langsir tersebut. Menurut informasi dari salah seorang teman korban yang juga sesama Istri Ikatan Wanita Kereta Api, setelah kembali dari rumah sakit, tubuh korban sudah dimasukan dalam peti mati. Tiba di rumah duka langsung dimandikan dan dikafani. Karena kondisi korban sudah sangat memprihatinkan, malam itu juga tepatnya setelah berbuka puasa dan selesai shalat magrib, jenazah dimakamkan di Pemakaman Umum Desa Talangjawa Kecamatan Baturaja Timur.
Kepala Stasiun Kereta Api Baturaja, Dadang Odang Bhakti belum berhasil dikonfirmasi. Menurut salah seorang karyawan PT KA yang ditemui di Stasiun Kereta Api Baturaja, KS Baturaja sedang ke Stasiun Tiga Gajah. Namun aat dihubungi via ponselnya tidak aktif. Sementara Kapolres OKU AKBP Drs Budi Setiyadi, SH, MSi membenarkan kejadian itu. (eni)

Monday, October 17th, 2005

Istri Masinis Tewas Ditabrak Kereta

BATURAJA, SRIPO — Peristiwa tragis menimpa Ny Trimulyowati binti M Kalil (48), istri masinis kereta api ini tewas terpotong empat bagian, akibat ditabrak kereta api yang sedang langsir, Senin (4/11). Kereta nomor lokomotif 5503 tersebut saat itu dimasinisi oleh Suk (40) dengan asisten masinis Yon (36).
Saat kejadian suami korban bernama Sutiman (50) yang juga berprofesi sebagai masinis, sedang shalat di rumah. Menurut informasi di lokasi kejadian, peristiwa yang menggemparkan keluarga besar PT Kereta Api Indonesia di Baturaja ini, terjadi sekitar pukul 12.05 di rel kereta dekat Stasiun Tiga Gajah, Baturaja.
Sebelum peristiwa memilukan, korban berpamitan dengan suaminya mau membeli minyak ke warung untuk keperluan memasak di kantinnya, karena dia juga membuka kantin untuk melayani pegawai kereta api di Stasiun Tiga Gajah. Sekitar pukul 13.05 saat korban akan pulang ke rumah, ada kereta klingker pengangkut semen yang saat itu lokomotifnya mengarah ke arah Baturaja. Korban lalu naik kereta api tersebut, saat akan turun diduga baju korban tersangkut dan tiba-tiba korban terjatuh dari kereta dan langsung tergilas roda kereta yang sedang mundur.
Tak pelak lagi, tubuh korban langsung disambar kereta api. Korban langsung tewas di lokasi kejadian dekat Stasiun Tiga Gajah. Kondisi tubuh korban sangat memprihatinkan, terpotong empat. Kepala terpisah dari badan, tangan kanan putus, dan pergelangan tangan kiri juga putus. Akibat kecelakaan kereta ini, tubuh ibu empat anak ini sempat terseret sejauh 20 meter dari lokasi kejadian.
Musibah yang menimpa wanita malang ini dalam waktu beberapa menit kemudian sudah tersiar ke seluruh penjuru, khususnya lokasi kejadian. Saat ada warga yang menyampaikan berita duka tentang musibah yang menimpa Ny Trimulyowati ini, suami korban sedang menunaikan shalat zuhur. Mendapat informai itu, suami korban segera meluncur ke lokasi kejadian, tiba di lokasi warga sudah ramai dan petugas dibantu warga segera mengangkat mayat korban dan melarikan ke Rumah Sakit Dr Ibnu Sutowo.
Dikubur Usai Magrib
Petugas rumah sakit juga menjahit untuk menyatukan bagian tubuh korban yang terpisah akibat ditabrak kereta api yang sedang langsir tersebut. Menurut informasi dari salah seorang teman korban yang juga sesama Istri Ikatan Wanita Kereta Api, setelah kembali dari rumah sakit, tubuh korban sudah dimasukan dalam peti mati. Tiba di rumah duka langsung dimandikan dan dikafani. Karena kondisi korban sudah sangat memprihatinkan, malam itu juga tepatnya setelah berbuka puasa dan selesai shalat magrib, jenazah dimakamkan di Pemakaman Umum Desa Talangjawa Kecamatan Baturaja Timur.
Kepala Stasiun Kereta Api Baturaja, Dadang Odang Bhakti belum berhasil dikonfirmasi. Menurut salah seorang karyawan PT KA yang ditemui di Stasiun Kereta Api Baturaja, KS Baturaja sedang ke Stasiun Tiga Gajah. Namun aat dihubungi via ponselnya tidak aktif. Sementara Kapolres OKU AKBP Drs Budi Setiyadi, SH, MSi membenarkan kejadian itu. (eni)

Saturday, October 15th, 2005

                Syahrial Oesman:
Beri Pelayanan Terbaik
Bagi Pemudik Lebaran

Gubernur Sumsel

Syahrial Oesman minta jajarannya terutama dinas perhubungan agar memberikan pelayanan terbaik bagi pemudik lebaran untuk memberikan kenyamanan bagi mereka yang akan melintasi provinsi tersebut.

"Kita harus berikan pelayanan yang terbaik bagi pemudik lebaran darimanapun asal daerahnya, agar mereka nyaman ketika melalui wilayah Sumsel," katanya saat memimpin rapat persiapan lebaran, natal dan tahun baru di Palembang, Rabu.

Jenis pelayanan yang akan diberikan adalah hal-hal yang mempermudah perjalanan bagi pemudik misalnya menyediakan peta berbagai jalur alternatif di Sumsel.

Menurut dia, peta tersebut harus dilengkapi dengan berbagai informasi, misalnya jalur yang rawan macet dan beresiko terjadinya kecelakaan lalu lintas, jalur alternatif yang bisa digunakan pemudik serta informasi tentang kedudukan pos-pos yang dapat dihubungi pemudik.

Pemudik juga akan dibekali dengan informasi nomor telepon instansi atau badan yang dapat memberikan bantuan kepada pemudik bila mengalami kesulitan di jalan.

Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan Sumsel, Amir Syarifudin untuk memudahkan pelayanan kepada pemudik, pihaknya selain akan membentuk pos-pos utama pemantauan arus mudik yang terletak diberbagai pintu masuk utama provinsi, seperti bandara, pelabuhan, terminal, dan stasiun kereta api, juga akan dibentuk pos-pos pemantau yang lokasinya terletak di perbatasan Sumsel dengan daerah lainnya, misalnya dengan Jambi, Lampung, Bengkulu dan yang lainnya.

Menurut dia, pos tersebut selain berfungsi untuk tempat pemantau arus pemudik juga dapat digunakan untuk tempat istirahat bagi mereka yang akan menempuh perjalanan jauh.

Mengenai penumpang yang akan menggunakan jalur darat, diperkirakannya akan meningkat sekitar 6 persen dibandingkan tahun 2003 yang sebelumnya hanya 38.109 orang menjadi 40.415 orang.

Sehubungan dengan itu pihaknya akan mengerahkan setidaknya 1.206 unit untuk angkutan antar kota antar provinsi (AKAP) dan 1.098 unit untuk angkutan antar kota dalam provinsi (AKDP).

Sedangkan titik yang dianggap rawan untuk perjalanan darat terdapat di jalur lintas tengah dimulai dari Martapura-Baturaja-Muara Enim-Lahat dan Lubuk Linggau, dengan titik rawan kecelakaan lalu lintas di Kabulaten Ogan Komering Ulu yaitu di Martapura, Muara Dua, Buay Madang dan Cempaka, sedangkan di Muara Enim terletak di Prabumulih, Gelumbang, Tanjung Agung dan Gunung Megang.

Titik rawan jalur lintas tengah juga dapat ditemukan di Lahat antara lain di Desa Tanjung Dalam dan Desa Muara Lintang serta di Musi Rawas yang terletak di Mura Beliti, Muara Rupit, Lubuk Linggau.

Wilayah rawan terjadinya kecelakaan lalu lintas juga ditemukan di jalur lintas timur bagian selatan yaitu rute Pematang Panggang-Kayu Agung-Inderalaya dan Palembang, dengan titik rawan terletak di Tanjung Mulya, Lempuing dan Kayu Agung, dengan lokasi rawan macet di pasar Inderalaya dan Tanjung Raja.

Sedangkan untuk jalur lintas timur bagian utara terletak antara Palembang-Betung-Bayung Lincir dengan titik rawan terletak di Pangkalan Balai, Sei Lilin, Bayung Lincir dan Sekayu dengan lokasi rawan macet di Simpang Betung. (Ant)

Friday, October 14th, 2005

Ancaman Krisis dan Kartel Semen

Oleh KHUDORI

DI balik perseteruan PT Semen Padang dengan PT Semen Gresik, sesungguhnya ada ancaman serius dalam industri semen domestik yang luput dari perhatian. Pertama, ancaman kelangkaan atau krisis semen. Jika konsumsi semen terus naik konstan 10% per tahun, sedangkan investasi baru tidak ada, tahun 2007 Indonesia akan mengalami krisis semen. Kedua, industri semen domestik tumbuh dalam iklim yang tidak sehat karena dibayang-bayangi oleh ancaman kartel oleh raksasa semen global yang ada di Indonesia.

Untuk menyelesaikan kedua masalah itu tidaklah mudah. Kapasitas industri semen nasional saat ini sebesar 47 juta ton setahun. Namun, karena krisis dan permintaan yang turun, utilisasi kapasitas produksinya hanya 36 juta ton (71,7%). Untuk menghindari kelangkaan, selain bisa dilakukan dengan mengurangi volume ekspor bisa juga dengan investasi baru. Masalahnya, investasi baru (grassroot) memerlukan 150-200 dolar AS per ton kapasitas dan untuk pengembangan 100-150 dolar AS per ton kapasitas. Itu pun jangka pembangunannya sekira 3-4 tahun. Pertanyaannya, siapakah yang mau berinvestasi?

Pertanyaan itu sulit dijawab karena realitasnya industri semen domestik sudah tidak lagi di bawah kendali kita. Sejak program privatisasi BUMN digulirkan pada 1998, satu per satu industri semen domestik jatuh ke kelompok The Big Five (Lafarge, Blue Circle, Holderbank, Heidelberger, dan Cemex).

Menurut data yang ada, empat dari lima raksasa semen dunia itu sudah mencengkeram Indonesia. Saham Semen Gresik (SG) sudah dikuasai Cemex, raja semen dari Meksiko, sebesar 25,53% sejak 1998 yang lalu. Heidelberger Zement dari Jerman menguasai saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. sebesar 60,62%. Holderbank bahkan sudah menguasai 100% saham PT Semen Cibinong Tbk. Sementara itu, raksasa semen dari Prancis, Lafarge — yang merger dengan Blue Circle dari Inggris — menguasai 72,41% saham PT Semen Andalas Indonesia.

Padahal, posisi SG-Cemex, Indocement-Heidelberger, dan Cibinong-Holderbank sangat strategis dalam peta industri semen di Indonesia. Ketiga perusahaan tersebut menguasai 86,69% dari total kapasitas terpasang atau sekira 89,42% dari total produksi semen di Indonesia. Sisanya, dikuasai pabrik semen gurem (PT Semen Baturaja, PT PT Semen Bosowa Maros, PT Semen Kupang). Artinya, siapa yang menguasai ketiganya, sangat mungkin melakukan praktik monopoli dan kartel dalam bisnis semen di Indonesia, praktik bisnis yang dilarang karena melanggar UU Antimonopoli (UU No. 5/1999).

Ancaman bakal terjadinya kartel itu amat logis karena perusahaan-perusahaan multinasional (MNC) itu sudah mempraktikkan perilaku kartel dalam bisnis semen global. Ini bisa dilakukan karena posisi mereka yang dominan. Menurut laporan Deutsche Bank tahun 2000 lalu sekira 40% pasar semen dunia dikuasai oleh tujuh pemain global, yaitu Holderbank (9%), Lafarge (8%), Cemex (6%), Heidelberger (6%), Taiheiyo (4%), Italcement (4%), dan Blue Circle (3%). Seluruhnya menguasai 577,4 juta ton dari 1.480 juta ton permintaan dunia.

Di industri semen domestik masih sulit dipastikan ada-tidaknya kartel. Akan tetapi, perilaku kartel yang melibatkan Holderbank, Lafarge, Cemex, dan Heidelberger sudah kasat mata. Misalnya, pembagian pasar secara informal, juga ada usaha sebagai produsen untuk menguasai pemasaran domestik dan ekspor. Ini sudah berlaku di Cibinong dan Indocement, dan bukan mustahil sebentar lagi di SG. Ini membuat perilaku kartel mudah dilakukan karena nantinya mengarah ke satu distributor.

Menurut Burgess (Industrial Organization, 1989), kartel adalah suatu perjanjian kolusi sesama produsen sejenis untuk menentukan harga, membagi pasar, dan membatasi produksi pada situasi yang sangat luas untuk meraih laba yang sebesar-besarnya. Pembagian-pembagian pasar, meskipun dilakukan secara informal, bisa ditafsirkan sebagai upaya mereka untuk saling menjaga agar tidak terjadi peperangan harga hebat di pasar dan harga semen tetap menarik buat mereka. Tujuannya, maksimalisasi profit.

Contoh indikasi kartel terjadi di Indocement. Pabrik berkapasitas produksi sekira 15,65 juta ton/tahun itu 60,62% sahamnya dikuasai Heidelberger. Itu berarti Heidelberger sebagai pemegang kendali perusahaan sehingga lebih mudah mengatur pemasarannya, baik untuk lokal maupun pasar luar negeri. Misalnya, tanpa sepengetahuan Indocement, Heidelberger telah melakukan ekspor malalui anak-anak perusahaannya di luar negeri. Akibatnya, pihak Indocement sangat dirugikan oleh adanya eskpor yang gila-gilaan itu. Keuntungan dari ekspor itu pun bukan masuk ke kantong Indocement, tetapi dilarikan ke anak-anak perusahaan di luar Indonesia. Ini berarti mereka melakukan transfer pricing.

Perilaku kartel lain terjadi di SG. Meskipun Cemex hanya menguasai 25,53% saham di SG, dalam CSPA (conditional sales and purchase agreement) yang diteken pemerintah dengan Cemex dinyatakan, PT SG Grup tidak boleh memasuki pasar luar negeri (ekspor) apabila Cemex mempunyai pabrik atau packing plant di suatu negara. Jika akan memasuki negara tersebut, SG Grup harus mengekspor melalui Cemex.

Masalahnya, harga ekspor melalui Cemex selalu lebih rendah dari harga pasar umum. Celakanya, Semen Padang (anak perusahaan SG) dipaksa tidak mengeskpor semen ke negara yang diklaim sebagai pasar Cemex, seperti ke Spanyol, Haiti, Mesir, dan USA meski sebelumnya tidak ada pelarangan untuk mengeskpor ke pasar-pasar tersebut. Bukan mustahil, ini membuka peluang bagi Cemex untuk melakukan transfer pricing.

Perilaku ini lebih mudah dilakukan karena secara keseluruhan Lafarge-Cemex-Heidelberger-Holderbank telah menguasai sekira 35,2 juta ton (74.89%) dari 47 juta ton kapasitas produksi semen nasional. Jika pemerintah memaksakan rencana put option atau divestasi 51% saham di SG, penguasaan pasar mereka akan menjadi 43,67 juta ton dari 47 juta ton kapasitas produksi semen nasional. Itu berarti mereka telah menguasai 92,9% kapasitas produksi industri semen domestik. Gambaran itu membuktikan, peta industri semen domestik saat ini telah dikuasai oleh raksasa semen asing. Bisa dipastikan, mereka akan bekerja sama dalam pengaturan pasar semen baik itu lokal maupun luar negeri.

Jika itu terjadi, dipastikan harga semen akan segera melonjak. Presedennya terjadi di Filipina. Ketika investor asing menguasai 90% kapasitas produksi semen di sana pada 1999, mereka melakukan trik pengurangan produksi, sehingga semen langka di pasar. Sesuai hukum keseimbangan supply and demand, otomatis harga semen melonjak. Dalam beberapa bulan, harga semen domestik di Filipina naik dua kali lipat menjadi 80 dolar AS per ton. Jika itu terjadi di Indonesia, berarti harga bahan bangunan akan naik. Belanja rakyat dan anggran pembangunan sarana oleh pemerintah harus dinaikkan berlipat-lipat. Ini jelas berbahaya dan merugikan bagi industri domestik dan rakyat secara keseluruhan. Sudah sepatutnya Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mewaspadainya.***

Penulis adalah pemerhati masalah sosial-ekonomi dan agrobisnis, alumni Fakultas Pertanian Universitas Jember.